Search

aufayazed's blog

ﺍَﻟْﺤَﺮْﻑُ ﻳَﺒْﻘَﻰ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺷَﺎﻫِﺪﺍً .. ﻓَﺎﻛْﺘُﺐْ ﺑِﻜَﻔِّﻚَ ﻣَﺎ ﺗَﺮَﺍﻩُ ﺟَﻤِﻴْﻼً "Huruf yg kamu tulis itu akan tetap ada sebagai saksi walaupun kamu sudah mati .. Maka tulislah dengan tanganmu hal-hal yg kamu lihat baik"

Mengenal Jama’ah Tabligh Bag.4

image

Jama’ah Tabligh (Agama Mimpi)

Oleh:  Tgk Alizar Utsman

Masalah 2

Dr. Abdul khaliq Firzada dalam bukunya, Maulana Muhammad Ilyas diantara pengikut dan penentangnya, menyebut segi-segi penting yang diutamakan oleh Syekh Muhammad Ilyas, point c adalah segi ibadah. Seterusnya disebutkan :
“ Sesungguhnya, akidah itu tidak bermanfaat apapun tanpa disertai ibadah”.

Berdasar pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa menurut Maulana Muhammad Ilyas bahwa dosa besar dengan sebab meninggalkan ibadah dapat mengakibatkan seseorang hilang imannya. Karena akidah yang dapat dipahami sebagai iman itu tidak bermanfaat kecuali disertai dengan ibadah. Kalau seseorang yang berakidah tanpa beribadah, imannya masih ada, tentu akidahnya tersebut bermanfaat adanya.

Analisis

Dalam memahami status hukum seseorang akibat sebuah dosa besar, kaum muslimin terpecah dalam beberapa golongan. Kaum Khawarij yang sudah dianggap keluar dari garis-garis Islam, menetapkan bahwa setiap perbuatan dosa merupakan syirik kepada Allah. Karena itu orang berbuat dosa besar dapat dianggap sebagai kafir dan kekal dalam api neraka.

Khawarij dalam mendefinisikan Iman, memahami bahwa amalan jawarih (amalan dzahir anggota tubuh) itu sendiri adalah merupakan iman. Sehingga kalau seseorang meninggalkan amalan dzahir, maka dia dapat digolongkan kepada kafir. Golongan Muktazilah berprinsip, bahwa amalan dzahir merupakan bagian dari iman, sehingga dosa besar itu dapat mengeluarkan seseorang dari keimanan, namun menurut Muktazilah, keluar dari keimanan tidak dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir, tetapi statusnya diantara muslim dan kafir.

Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah golongan yang diredhai Allah berprinsip bahwa seorang muslim yang berbuat dosa besar tetap dalam keimanannya dan dia tetap dapat dianggap sebagai mukmin meskipun mukmin ‘ashii, (orang beriman yang berbuat maksiat yang dijanjikan Allah kena ‘azab dalam neraka kelak kalau dia meninggal dunia tidak sempat bertaubat). Pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah ini atas dasar bahwa amalan dzahir tidak termasuk dalam bagian iman.

Prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah ini berdasarkan:

  1. firman Allah SWT,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻓْﺘَﺮَﻯ ﺇِﺛْﻤًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain syirik itu, bagi siapa yang dikehendakinya. (An-Nisa’ : 48)

  1. Sesungguhnya dalam hukum-hukum qishas, Allah telah menyebut bahwa sipembunuh adalah saudara bagi siterbunuh. Firman Allah SWT :

ﻓَﻤَﻦْ ﻋُﻔِﻲَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﺧِﻴﻪِ ﺷَﻲْﺀٌ ﻓَﺎﺗِّﺒَﺎﻉٌ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺃَﺩَﺍﺀٌ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ

Artinya : Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah mengikuti dengan cara yang baik. (Al-Baqarah : 178)

Seandainya pembunuh yang terbuat telah berbuat dosa besar itu digolongkan kepada kafir, tentu Allah tidak menyebutnya sebagai saudara bagi orang mukmin, karena ukhuwah dan kasih sayang tidak akan terjadi melainkan bagi orang mukmin.

Pertanyaan selanjut adalah paham manakah yang diikuti oleh Muhammad Ilyas ini ? mengikuti paham Muktazilah atau termasuk Khawarijkah ? wallahu a’lam bishshawab. Yang jelas pemahaman tersebut bertentangan dengan paham Golongan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Masalah 3

Maulana Muhammad Ilyas menanamkan faham anti politik dan kekuasaan kepada pengikutnya. Bahkan beliau mengungkapkan bahwa memegang kekuasaan yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak menjadi cita-cita umat Islam. Hal ini dapat kita pahami dari pernyataan Maulana Muhammad Ilyas :
“Jika kita dapat memegang kekuasaan dengan mengikuti ajaran Nabi SAW , memang kita tidak menolaknya, akan tetapi hal itu hendaknya tidak menjadi cita-cita kita.”

Dr. Abdul Khaliq Pirzada menyebutkan empat hal yang tidak boleh disentuh oleh Jam’ah Tabligh, salah satunya adalah masalah politik .

Analisis

Telah terjadi ijma’ ulama bahwa mengangkat imam (pemimpin negara) adalah wajib hukumnya.6 Ijma’ ini didasarkan kepada firman Allah SWT sebagai berikut :

ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻟَﻴَﺴْﺘَﺨْﻠِﻔَﻨَّﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻛَﻤَﺎ ﺍﺳْﺘَﺨْﻠَﻒَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻬِﻢْ ﻭَﻟَﻴُﻤَﻜِّﻨَﻦَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻬُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺍﺭْﺗَﻀَﻰ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﻟَﻴُﺒَﺪِّﻟَﻨَّﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺧَﻮْﻓِﻬِﻢْ ﺃَﻣْﻨًﺎ ﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻧَﻨِﻲ ﻟَﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ﺑِﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ

Artinya : Allah SWT telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin dan orang-orang yang beramal shaleh diantara kami bahwa mereka akan menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana orang-orang dahulu telah menjadi khalifah. Dan Allah akan menetapkan agama mereka (Islam) yang diredhai-Nya bagi mereka. Dan Allah akan mengganti ketakutan mereka dengan perasaan aman. (Q.S. An-Nur : 55)

Bahkan sebagaimana riwayat yang sangat masyhur dan tidak ada yang membantahnya, bahwa para Sahabat Nabi SAW lebih mendahulukan permusyawaratan masalah khilafah (kepemimpinan) dari pada urusan jenazah Rasulullah SAW.

Ini menunjukkan bahwa masalah kepemimpinan adalah masalah yang sangat penting dan urgen dalam agama Islam, karena tidak mungkin dapat menyempurnakan kewajiban seperti pembelaan agama, menjaga keamanan umat Islam dan sebagainya selain dengan adanya khilafah (pemerintahan) dan inilah yang menjadi doktrin Ahlussunnah wal Jama’ah, paham mayoritas masyarakat Aceh dan Indonesia pada umumnya. Upaya meraih kekuasan untuk memperoleh kedudukan imam tersebut menjadi fardhu kifayah atas umat Islam.

Berkata Qalyubi :
“Hukum mendirikan Imamah adalah fardhu kifayah “.

Berdasarkan uraian di atas nyatalah bahwa pernyataan Maulana Muhammad Ilyas, pendiri Jama’ah Tabligh bahwa memegang kekuasaan negara bukan cita-cita umat Islam, adalah bertentangan Ijma’ Ulama dan keluar dari paham Ahlussunnah wal jama’ah.

Jika ditelusuri sejarah pemikiran Islam tentang politik dan kekuasaan di India, kita diingatkan oleh sejarah, bahwa di India pernah muncul seorang yang mengaku sebagai pembaharu yang mati-matian membela Pemerintah Kolonialis Inggris pada penghujung Abad 19, yaitu Sir Sayyed Ahmad Khan (1817-1898 M) yang berpendapat bahwa susunan agama Islam itu bersifat a-politik, karena itu ia menentang setiap pergerakan politik, walaupun politik berdasarkan Islam.

Disamping itu kita diingatkan oleh ajaran Mirza Ghulam Ahmad, Nabinya orang Ahmadiyah Qadian, yang menghilangkan ajaran jihad demi pesan sponsornya, Pemerintah kolonial Inggris. Penulis menduga mungkin pemikiran Maulana Muhammad Ilyas ini terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sir Sayyed Ahmad Khan dan Mirza Ghulam Ahmad yang hidup senegara dengannya, setidaknya mengenai politik dan pemerintahan dalam Islam.

Masalah 4

. Berkata Maulana Ilyas :
“Para anbiya a.s. adalah ma’shum dan mahfuzh. Mereka menerima ilmu dan hidayah langsung dari Allah. Tetapi ketika mereka bercampur gaul dengan masyarakat awam menta’limkan dan mentablighkan usaha hidayah kepada mereka, maka hati mereka yang mubarok (penuh berkah) dan munawar (penuh cahaya) terpengaruh juga oleh kotoran masyarakat awam. Akhirnya mereka akan membersihkan kotoran-kotoran tersebut dengan menyibukkan diri dalam dzikir dan ibadah”

Jika kita perhatikan perkataan Maulana Ilyas tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Maulana Ilyas menuduh para Nabi a.s. bahwa hati mereka tidak terpelihara dari dosa-dosa. Artinya para Nabi a.s. dapat saja melakukan dosa-dosa hati karena pengaruh kesalahan-kesalahan masyarakat awam, sehingga perlu dibersihkan dengan berzikir dan beribadah. Kita tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ma’shum menurut Maulana Ilyas, sehingga meskipun pada awalnya beliau menyebut para anbiya a.s. adalah ma’shum, tetapi kemudian menyatakan bahwa para anbiya tersebut dapat saja melakukan dosa-dosa.

Analisis

Tidak diragukan lagi, kita sebagai umat Islam yang beri’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa para Anbiya a.s. adalah ma’shum dalam arti bahwa para anbiya a.s. tidak mungkin jatuh dalam perbuatan dosa. Berkata Zakaria al-Anshary as-Syafi’i seorang ulama besar beri’tiqad Ahlussunnah wal jama’ah bermazhab Syafi’i :
“Para Anbiya a.s. ma’shum (terpelihara) dari perbuatan dosa termasuk didalamnya dosa kecil yang dilakukan karena lupa. Oleh karena itu, tidak terjadi perbuatan dosa pada mereka, baik dosa besar maupun kecil, baik sengaja maupun dengan sebab lupa”.

Berkata Muhammad bin Manshur al-Hud-hudy :
“ Perbuatan para Anbiya a.s. berkisar antara wajib, sunat dan mubah. Hukum mubah ini bila ditinjau zat perbuatannya. Adapun bila ditinjau dari ‘awarizhnya (aspek lain), maka perbuatan para Anbiya itu tidak terlepas dari wajib dan sunat, karena perbuatan mubah tidak terjadi pada para Anbiya a.s. kecuali untuk qashad qurbah (ibadah), minimal untuk qashat tasyri’ (pensyari’atan) kepada orang lain (umat)”.

Menurut perkataan dua orang ulama besar Ahlussunnah wal jama’ah tersebut di atas, perbuatan mubah saja tidak terjadi pada para Nabi a.s., lalu bagaimana dengan perbuatan dosa sebagaimana tuduhan Maulana Muhammad ilyas, nauzubillahi min zalik

Masalah 5

Ungkapan perasaan rasa syukur kepada Allah boleh dengan sikap berpura-pura. Maulana Muhammad Ilyas pernah mengirim surat kepada rekannya saat anaknya baru lahir :
“ Sungguh itu kenikmatan yang besar dari Allah dan engkau mesti menerimanya dengan suka cita. Mesti tidak boleh berlebihan, namun engkau mesti melahir perasaan suka cita meski berpura-pura sebagai tanda syukur kepada Allah”.

Analisis
Sikap berpura-pura dalam etika Islam atau ilmu akhlak sering disebut sebagai sikap munafiq. Sikap munafiq merupakan suatu sifat yang sangat tercela dalam Islam. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ ‏( 67 ‏) ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻧَﺎﺭَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ

Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafiq itu hanyalah orang berbuat fasiq, Allah telah menjanjikan bagi orang-orang munafiq , baik laki-laki maupun perempuan dan orang-orang kafir itu kekal dalam neraka jahannam.(Q.S. At-Taubah : 67-68)

Masalah 6

Jama’ah Tabligh melarang jama’ahnya dalam berdakwah menghilangkan dan membersihkan kemungkaran. Sementara itu dalam kelompok Jama’ah Tabligh ada berbagai aliran sesuai dengan asal paham anggotanya termasuk didalamnya aliran-aliran yang keluar dari Ahlussunnah wal Jama’ah.

Bahkan Sa’ad bin Ibrahim Syilbi, salah seorang penyebar ajaran Jama’ah Tabligh dalam bukunya Dalil-Dalil Da’wah dan Tabligh setelah mengakui ada segelintir anggota Jama’ah yang tidak ada pendalaman cukup terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah yang membenci dan memusuhi kaum salaf dan dua tokohnya, Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab, berkata :
“Ini demi Allah batil (tidak benar), kezhaliman dan kebohongan besar yang tidak halal dilakukan oleh seorang muslim’, selanjutnya Sa’ad bin Ibrahim Syilbi mengatakan ‘Kami hanya ingin mengatakan bahwa Jama’ah Tabligh tidak termasuk dalam kelompok orang yang membenci kaum salaf”.

Padahal sebagaimana kita maklumi bahwa kedua tokoh salaf, Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab sudah difatwa oleh ulama-ulama Ahlusunnnah wal Jama’ah sebagai orang yang sudah keluar dari golongan yang benar dan sudah menyimpang dari jalan yang lurus.

Berkata Dr. Abdul Khaliq Firzada :
“ Beliau (Muhammad Ilyas, pen.) mengajak setiap orang tanpa membedakan tingkat keilmuan, kelas sosial, maupun mazhab, baik orang alim maupun bodoh, kaya, miskin, pengikut Maliki, Syafi’i, Hambali atau Hanafi, bahkan Mazhab Salafi atau mazhab-mazhab kecil lainnya dikalangan umat Islam.

Dalam hal larangan Jama’ah Tabligh menghilangkan kemungkaran dapat disimak dari pengakuan Sa’ad bin Ibrahim Syilbi dalam bukunya,
“Bahwa tidak termasuk dalam metode Jama’ah Tabligh pengingkaran terhadap pemilik atau pelaku kemungkaran.

Berdasarkan sumber-sumber di atas, dapat dipahami bahwa Jama’ah Tabligh tidak membolehkan anggotanya menghilangkan kemungkaran termasuk didalamnya bid’ah dan bahkan Jama,ah Tabligh melarang anggotanya memusuhi tokoh seperti Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab.

Termasuk kemungkaran yang tidak boleh dihilangkan dalam Jama’ah Tabligh sebagaimama disebut oleh Hamud bin Abdullah bin Hamud al-Tawijiry adalah pernah satu jama’ah dari Jama’ah Tabligh dari negeri Hindia berzikir disuatu tempat di kota Makkah dengan mengulang-ulang kalimat La ilaha sekitar enam ratus kali, kemudian baru mengucapkan kalimat illallah sekitar dua ratus kali. Zikir model ini dilakukan dalam waktu yang lama dan dihadiri oleh masyaikh mereka. Kita tidak tahu ajaran berzikir dari mana ini, dengan menafikan Tuhan sebanyak enam ratus kali kemudian mengisbatkan-Nya dua ratus kali.

Analisis
Dalam menjawab masalah di atas, mari kita simak dalil-dalil yang mengharuskan untuk menghilangkan kemungkaran dibumi ini, antara lain :

  1. Firman Allah Q.S. al-Taubah : 71

ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕُ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀُ ﺑَﻌْﺾٍ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﻳُﺆْﺗُﻮﻥَ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﻳُﻄِﻴﻌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺳَﻴَﺮْﺣَﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺣَﻜِﻴﻢٌ

Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Q.S. al-Taubah : 71)

  1. Firman Allah Q.S. al-Hajj : 41

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﻥْ ﻣَﻜَّﻨَّﺎﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﻗَﺎﻣُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﺁﺗَﻮُﺍ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﺃَﻣَﺮُﻭﺍ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻧَﻬَﻮْﺍ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﻋَﺎﻗِﺒَﺔُ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮﺭِ

Artinya : (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.(Q.S. al-Hajj : 41)

  1. Hadits Nabi SAW :

ﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﻣﻨﻜﻢ ﻣﻨﻜﺮﺍ ﻓﻠﻴﻐﻴﺮﻩ ﺑﻴﺪﻩ . ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻠﺴﺎﻧﻪ . ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻘﻠﺒﻪ . ﻭﺫﻟﻚ ﺃﺿﻌﻒ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ

Artinya : Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman(HR. Muslim)

Berdasarkan dalil di atas, dapat dipahami dengan mudah dan gamblang bahwa kedudukan upaya menghilangkan kemungkaran mendapat kedudukan yang sangat penting dalam agama. Artinya menghilangkan kemungkaran mempunyai kedudukan yang sama dengan amar ma’ruf.

Jadi kita tidak dapat menyepelekan salah satunya, apalagi menganggap menghilangkan kemungkaran bukanlah sebuah kewajiban. Dalam sejarah anak manusia, sebenarnya jama’ah yang meninggalkan menghilangkan kemungkaran banyak bermunculan.

Diantaranya, Allah SWT telah mencela pendeta agama Nashrani yang meninggalkan upaya menghilangkan kemungkaran dalam firman-Nya :
ﻟَﻮْﻟَﺎ ﻳَﻨْﻬَﺎﻫُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻴُّﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﺄَﺣْﺒَﺎﺭُ ﻋَﻦْ ﻗَﻮْﻟِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢَ ﻭَﺃَﻛْﻠِﻬِﻢُ ﺍﻟﺴُّﺤْﺖَ ﻟَﺒِﺌْﺲَ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ

Artinya : Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.(Q.S. al-Maidah : 63)

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa pendeta-pendeta itu berdosa karena meninggalkan menghilangkan kemungkaran.20 Masih banyak dalil-dalil lain, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits Rasulullah SAW yang menerangkan kewajiban menghilangkan kemungkaran, namun penulis tidak menyebut semuanya karena menurut hemat penulis dalil-dalil di atas sudah memadai sebagai pedoman, kalau memang kita termasuk dalam orang-orang mencari kebenaran agama. Al-Bakry al-Damyathi berkata :
“Banyak sekali dan tidak terhingga ayat-ayat dan hadits mengenai amar ma’ruf dan menghilangkan kemungkaran”.

Berikut pendapat ulama mengenai kewajiban menghilangkan kemungkaran, antara lain :

  1. Imam al-Ghazali berkata :
    “Sesungguhnya amar ma’ruf dan melarang kemungkaran adalah al-quthub al-a’dham (pusat yang terpenting) dalam agama”.
  2. Zainuddin al-Malibary mengatakan :
    “Memerintah hal-hal yang wajib pada syara’ dan melarang dari yang haram adalah wajib kifayah atas setiap mukallaf , baik dia merdeka ataupun hamba sahaya, laki-laki, perempuan ataupun khuntsa “.

Lalu siapa kaum salaf dan kedua tokohnya, Ibnu Taimiyah dan Muhammad Bin Abdul Wahab itu? Penjelasan ini menjadi penting karena Jama’ah Tabligh, sebagaimana penjelasan di atas, begitu marah kalau ada pengikutnya yang membenci kedua tokoh tersebut.

Untuk menjawab ini, penulis cukupi saja pernyataan dua ulama terpengaruh dikalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu :

  1. Mufti Syafi’i Syekh Zaini Dahlan berkata :
    “Walhasil yang tahqiq menurut kami, bahwa sebagian perkataan dan perbuatannya (Muhammad bin Abdul Wahab) mewajibkan keluarnya dari qawa’id Islam,karena penghalalannya terhadap harta yang ijmak atas tahrimnya, yang maklum dari agama dengan dharurah dengan tanpa ta’wil yang dibolehkan, serta penempatannya derajat para anbiya, rasul, auliya dan orang-orang shaleh pada derajat yang kurang. Padahal penempatan mereka tersebut pada derajat yang kurang dengan sengaja adalah kufur dengan ijmak imam yang empat”.
  • Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani berkata :
    “ Kita mengatakan sesungguhnya mereka ( Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya) adalah sesat dan ahli bid’ah”.

  • Wallahu a’lam

    DAFTAR PUSTAKA:

    1 Dr. Abdul khaliq Firzada, Maulana Muhammad Ilyas diantara pengikut dan penentangnya, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yoqyakarta, Hal. 116
    2.Al-Baidhawy, Tafsir Anwarul Tanzil wa Asrarul Ta’wil, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juz II, Hal 92
    3.Al-Baidhawy, Tafsir Anwarul Tanzil wa Asrarul Ta’wil, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juz I, Hal. 54, dan Ibrahim Bajury, Tahqiqul Maqam ‘ala Kifayatul ‘Awam fii ‘Ilmil Kalam, Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nabhan wa Auladuhu, Surabaya, Hal 77
    4.Abul Hasan Ali Nadwy, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yogyakarta, Hal 106
    5.Dr. Abdul khaliq Firzada, Maulana Muhammad Ilyas diantara pengikut dan penentangnya, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yoqyakarta Hal.31, lihat juga Sa,ad bin Ibrahim Syibli, Dalil-Dalil Dakwah dan Tabligh , (terjemahan oleh Drs Musthafa Sayani) Pustaka Ramadhan, Bandung, Hal. 9
    6.Al-Mawardy, Ahkamul Sulthaniyah, Darul Fikri, Beirut, Hal. 5. Dapat dilihat juga dalam al-Khuzhary Bek, Itmam al-Wafa’, Bangkul Indah, Surabaya, Hal. 6
    7.Ibnu Hajar al-Haitamy, Shawa-i’ al-Muhriqah fi Radd Ahli al-Bid’i wal-Zindiqah, Hal. 6. lihat jiga H. Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, Sinar Baru, Bandung, Hal. 455
    8.Al-Mawardy, Ahkamul Sulthaniyah, Darul Fikri, Beirut, Hal.5.
    9.Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wa ‘Umairah, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Juz IV, Hal. 173
    10.Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama, Pustaka Tarbiyah, Jakarta, Juzu’ II, Hal 232
    11.Maulana Manzhur Nu’mani, Mutiara Hikmah Ulama Ahli dakwah, (terjemahan oleh A. Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny) Pustaka Nabawi, Hal. 48-49
    12.Zakariya al-Anshary, Ghayatul Wusul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 91
    13.Muhammad bin Manshur al-Hud-hudy, Syarah Hud-hudy, dicetak pada Hamisy Hasyiah al-Syarqawy, Syirkah al-Ma’rif, Bandung, Hal. 116
    14.Abul Hasan Ali Nadwy, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yogyakarta, Hal 170
    15.Sa’ad bin Ibrahim Syilbi, Dalil-Dalil Da’wah dan Tabligh, (terjemahan oleh Ust. Musthafa Sayani), Pustaka Ramadhan, Bandung, Hal 153-154
    16.Dr. Abdul Khaliq Firzada, Maulana Muhammad Ilyas diantara pengikut dan penentangnya, (Terjemahan oleh Ust. Masrokhan Ahmad), Ash-Shaff, Yoqyakarta, Hal 118
    17.Sa’ad bin Ibrahim Syilbi, Dalil-Dalil Da’wah dan Tabligh, (terjemahan oleh Ust. Musthafa Sayani), Pustaka Ramadhan, Bandung, Hal. 155
    18.Hamud bin Abdullah bin Hamud al-Tawijiry, Qaul al-Baligh fi al-Tahziri min Jama’ah al-Tabligh, Dar al-Shami’i, Saudi Arabiya, Hal. 9
    19.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. I, Hal. 69, No. Hadits : 49
    20.Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 303
    21.Al-Bakry al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 182
    22.Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 302
    23.Zainuddin al-Malibary, Irsyadul Ibad, Syirkah al-Ma’arif, Bandung, Hal. 72
    24.Syekh Zaini Dahlan, Durarussaniah fi Raddi ‘ala al-Wahabiyah, Hal. 53
    25.Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, Syawahidul Haq, Darul Fikri, Beirut, Hal. 51

    Salam Aswaja 🙂

    Mengenal Jama’ah Tabligh Bag.3

    image

    Jama’ah Tabligh (Agama Mimpi)

    Oleh:  Tgk Alizar Utsman

    1. Jawaban pertanyaan kedua
      Berikut penafsiran sahabat Nabi dan ulama-ulama tafsir mu’tabar dikalangan Ahlusunnah wal Jama’ah dan sering menjadi rujukan umat Islam, antara lain :
    2. Nashiruddin Al-Baidhawy menafsirkan perkataan ﺃﺧﺮﺟﺕ ayat 110, Q.S. Ali Imran dengan ﻠﻬﻡ ﺃﻈﻬﺮﺖ maksudnya dimunculkan bagi manusia.1 Penafisiran yang sama juga dapat kita lihat dalam Tafsir Jalalain karangan Jalaluddin Sayuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli.

    3. Berkata Kazin dalam Tafsirnya :
      “Makna ﺃﺧﺮﺟﺕadalah dilahirkan bagi manusia sehingga dapat dikenalinya.

    4. Dalam menafsir Q.S. Ali Imran : 110, Ibnu Katsir mengatakan :
      “Maknanya : sesungguhnya mereka adalah sebaik-baik umat dan yang sangat bermanfa’at bagi manusia”.

    5. Berkata Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, ‘Atha’, Rabi’ bin Anas dan ‘Athiyah al-Aufy:
      “Makna ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺧَﻴْﺮَ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃُﺧْﺮِﺟَﺖْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ adalah sebaik-baik manusia untuk manusia.

    6. Abu Hurairah dalam menafsirkan makna Q.S. Ali Imran : 110 mengatakan:
      “Sebaik-baik manusia yang datang untuk manusia dengan merantai leher manusia itu sehingga mereka masuk Islam”.(H.R. Bukhari)6
      Berdasarkan beberapa buah tafsir yang muktabar di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah di atas, dapat dipahami makna ayat tersebut lengkapnya adalah :
      “Kamu hai umat Muhammad adalah sebaik-baik umat yang dimunculkan bagi manusia untuk melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dan beriman kepada Allah”.

    Tidak dapat dipahami dari ayat tersebut adanya perintah keluar meninggalkan tempat tinggal dalam rangka dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar sebagaimana ala khuruj Jama’ah Tabligh yang tafsirnya berdasarkan mimpi Muhammad Ilyas.

    Adapun firman Allah SWT :

    ﻟﺴﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﻤﺼﻴﻄﺮ

    Dan firman Allah SWT :

    ﻭﻣﺎﺃﻧﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﻮﻛﻴﻞ

    yang dijadikan dalil oleh Muhammad Ilyas untuk mendukung penafsiran yang didapati dari mimpi tentang Q.S. Ali-Imran : 110 di atas, penjelasannya adalah sebagi berikut :

    1. Lengkapnya ayat pertama berbunyi :

    ﻓَﺬَﻛِّﺮْ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﻣُﺬَﻛِّﺮٌ ‏( 21 ‏) ﻟَﺴْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑِﻤُﺼَﻴْﻄِﺮٍ ‏( 22 )

    Artinya : Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Q.S. al-Ghasyiah : 21-22)

    Dengan memperhatikan rangkaian ayatnya, kita dengan mudah dapat tahu bahwa ayat ini memerintah kepada kepada Nabi Muhammad untuk memberi peringatan, tetapi Nabi Muhammad bukanlah orang yang berkuasa memberikan hidayah kepada mereka.

    Karena urusan memberi hidayah hanyalah urusan Allah SWT. Jadi, bukan maksudnya, Nabi Muhammad tidak perlu mengurus atau peduli urusan agama orang Arab. Apalagi kalau perkataan “kamu” dalam ayat tersebut dimaksudkan sebagai Muhammad Ilyas sendiri, maka jelas penafsiran ini sangat aneh dan sangat jauh dari maksud ayat tersebut, kecuali Muhammad Ilyas berdasarkan mimpinya itu sudah mengangkat dirinya sebagai rasul, na’uzubillah min dzalik.

    Penjelasan penafsiran ayat ini sebagaimana penulis sebut di atas sesuai dengan keterangan Ibnu Katsir, beliau dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan :
    “Hai Muhammad (Rasulullah SAW, bukan Muhammad Ilyas, pen) berikan peringatan kepada manusia dengan apa yang telah diutuskan engkau kepada mereka. Kamu hanya berkewajiban menyampaikan. Kami (Allah) ada hisabnya (perhitungan). Dengan sebab demikian Allah berfirman : “Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”.

    Sesuai dengan ini adalah penafsiran Ibnu Abbas dan al-Mujahid dan lainnya, beliau mengatakan, tafsirnya adalah :
    “Kamu tidak dapat memaksa mereka”.
    Ibnu Zaid mengatakan :
    “Kamu tidak dapat memaksa mereka untuk beriman”.

    Dan lagi pula ayat ini menurut keterangan Tafsir Jalalain sudah mansukh, jadi tidak dapat dijadikan hujjah dalam berargumentasi. Ayat ini hanya berlaku pada awal Islam.

    Disebut dalam Tafsir Jalalain :
    “Ini sebelum adanya perintah jihad”.
    Maksudnya, ayat ini dinyatakan mansukh dengan turunnya ayat perintah perang sebagaimana penjelasan Ahmad Shawy.

    1. Menurut kitab indeks al-Qur’an, Fath al-Rahman,9 ayat kedua tersebut di atas, terdapat pada Q.S. al-An’am : 104-107, Q.S. al-Zumar : 41 dan Al-Syuraa : 6. Q.S. al-An’am : 104-107 berbunyi :

    ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺑَﺼَﺎﺋِﺮُ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺮَ ﻓَﻠِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻲَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺤَﻔِﻴﻆٍ ‏( 104 ‏) ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧُﺼَﺮِّﻑُ ﺍﻟْﺂﻳَﺎﺕِ ﻭَﻟِﻴَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺩَﺭَﺳْﺖَ ﻭَﻟِﻨُﺒَﻴِّﻨَﻪُ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏( 105 ‏) ﺍﺗَّﺒِﻊْ ﻣَﺎ ﺃُﻭﺣِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻚَ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﻭَﺃَﻋْﺮِﺽْ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ‏( 106 ‏) ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺎ ﺃَﺷْﺮَﻛُﻮﺍ ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻙَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺣَﻔِﻴﻈًﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑِﻮَﻛِﻴﻞٍ ‏( 107)

    Artinya : Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu). Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari ahli Kitab)”, dan supaya Kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, tidak ada Tuhan selain Dia dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). dan kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.(Q.S. al-An’am : 104-107)

    Tidak dapat dipahami dari firman Allah “Dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka”, bahwa urusan orang Arab bukan lagi tugas dakwah Nabi SAW. Justru ayat tersebut memerintah kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan ayat-ayat Tuhan kepada mereka, tetapi pada akhirnya hanya Allahlah yang memberikan keimanan dan hidayah kepada setiap manusia. Oleh karena itu, Rasulullah SAW tidak perlu memaksa mereka untuk beriman. Ayat ini juga menurut Tafsir Jalalain sudah mansukh dengan turun ayat perintah perang terhadap orang musyrik.

    Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan :
    “Kamu bukan yang bertanggungjawab terhadap rezeki dan urusan mereka. Tidak ada kewajiban atasmu kecuali menyampaikan dakwah”.
    Q.S. al-Zumar : 41, berbunyi :

     ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻓَﻤَﻦِ ﺍﻫْﺘَﺪَﻯ ﻓَﻠِﻨَﻔْﺴِﻪِ
    ﻭَﻣَﻦْ ﺿَﻞَّ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﻀِﻞُّ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑِﻮَﻛِﻴﻞٍ

    Artinya : Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.(Q.S. al-Zumar : 41)

    Disebut dalam Tafsir al-Jalalain :
    “Dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka, sehingga kamu memaksa mereka menerima hidayah”.

    Berkata al-Baidhawy :
    “Tidak dibebankan tanggungjawab kepadamu sehingga kamu perlu memaksa mereka untuk menerima hidayah. Kamu hanya diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan kamu sudah menyampaikan.”

    Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa ayat di atas hanya menjelaskan bahwa Rasulullah tidak dapat memaksa mereka untuk beriman, tetapi yang dapat membuat mereka beriman hanya Allah SWT. Ini bukan berarti Rasulullah SAW tidak perlu melakukan dakwah terhadap mereka.
    dan Q.S. Al-Syuraa : 6, berbunyi :

    ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻧِﻪِ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺣَﻔِﻴﻆٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑِﻮَﻛِﻴﻞٍ

    Artinya : Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka dan kamu (Ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. (Al-Syuraa : 6)

    Al-Jalalain mengatakan :
    “Kamu bukanlah orang yang menghasilkan sesuatu yang diharapkan dari mereka. Tidak ada kewajiban atasmu kecuali menyampaikan saja.”

    Ayat ini berdasarkan Qurthuby juga telah dimansukhkan dengan ayat perang.

    1. Jawaban pertanyaan yang ketiga
      Hadits yang di maksud pada pertanyaan ketiga ini, lafazhnya adalah sebagaimana berikut :

    ﺭُﺅْﻳَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺳﺘﺔ ﻭﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺟﺰﺀﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ

    Artinya : Mimpi orang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian (H.R. Bukhari16 dan Muslim 17 )

    Hadits yang senada dengan di atas, antara lain :
    1. Hadits Muslim :

    ﺍﻟﺮﺅﻳﺎ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺳﺘﺔ ﻭﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺟﺰﺀﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ

    Artinya : Mimpi yang baik adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian(H.R. Muslim)

    1. Hadits Muslim :

    ﺭﺅﻳﺎ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺳﺘﺔ ﻭﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺟﺰﺀﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ

    aynitrAِ : Mimpi laki-laki yang shaleh satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian (H.R. Muslim)

    Untuk memahami hadits di atas secara benar, mari kita perhatikan penafsiran para ulama mu’tabar di kalangan ahlusunnah, antara lain :

    1. Menurut Zarkasyi empat puluh enam yang tersebut pada hadits di atas, semuanya merupakan jalan untuk menghasilkan ilmu bagi para anbiya. Manusia lain tidak sampai kepada ilmu tersebut kecuali melalui khabar (berita).

    Diantara contoh jalan ilmu para anbiya itu adalah kalam binatang, kalam benda mati, wahyu dan lain-lain. Mimpi yang benar termasuk dalam empat puluh enam tadi.

    Jadi menurut Zarkasyi, hadits ini membicarakan mimpi para Nabi, bukan mimpi manusia selain Nabi. Oleh karena itu, mimpi para Nabi dapat dijadikan hujjah dalam penetapan hukum, karena termasuk salah satu jalan kenabian, sedangkan mimpi manusia biasa tidak dapat menjadi hujjah. Yang senada dengan pendapat ini adalah pendapat al-Khuthaby, beliau berkata :
    “Hadits ini menguatkan urusan mimpi dan mentahqiqkan kedudukannya. Mimpi itu satu bagian dari bagian-bagian kenabian adalah pada haq para anbiya, bukan selain mereka. Karena para anbiya disampaikan wahyu kepada mereka pada waktu bermimpi sebagaimana halnya pada waktu jaga.”

    1. Penafsiran lain dari hadits di atas dan yang senada dengannya, muncul dalam konteks pemahaman perkataan “al-busyraa” pada Q.S. Yunus : 63-64, berbunyi :

    ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﺘَّﻘُﻮﻥَ ‏( 63 ‏) ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺒُﺸْﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻟَﺎ ﺗَﺒْﺪِﻳﻞَ ﻟِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺫَﻟِﻚَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻔَﻮْﺯُ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ ‏( 64 )

    Artinya : Orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka ada berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.(Q.S. Yunus : 63-64)

    Ini dapat dilihat penjelasannya dalam Tafsir Ibnu Katsir,22 Tafsir Qurthuby23 , Tafsir Thabary24 dan Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jafsy al-Kidiry dalam kitabnya, Siraj al-Thalibin.

    Berdasarkan pemahaman ini, maka yang dimaksud dengan mimpi dalam hadits tersebut adalah mimpi dalam kerangka al-busyra (kabar gembira), seperti isyarat akan mendapatkan keturunan, jabatan yang baik, harta yang halal, menjadi ulama dan lain-lain. Jadi bukan dalam kerangka sebagai dalil menafsirkan al-Qur’an, apalagi penetapan hukum berdasarkan mimpi.

    Penafsiran ini berdasarkan hadits-hadits berikut :
    1. Hadits riwayat Turmidzi dari Ubadah bin Shamid, beliau berkata :
    “Aku pernah menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah yang berbunyi :

    ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺒُﺸْﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ

    Rasulullah SAW bersabda :

    ﻫﻲ ﺍﻟﺮﺅﻳﺎ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻳﺮﺍﻫﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺃﻭ ﺗﺮﻯ ﻟﻪ

    Artinya : Ia adalah mimpi yang baik yang lihat oleh orang mukmin atau yang perlihatkan kepadanya.(H.R. Turmidzi)

    1. Hadits riwayat Bukhari :

    ﻟَﻢْ ﻳَﺒْﻖَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟْﻤُﺒَﺸِّﺮَﺍﺕُ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﻤُﺒَﺸِّﺮَﺍﺕُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮُّﺅْﻳَﺎ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ

    Artinya : Tidak tersisa dari kenabian kecuali mubsyiraat. Para sahabat bertanya apa itu mubsyiraat?. Rasulullah mejawab: “mimpi yang baik”. (H.R. Bukhari)

    1. Hadits riwayat Muslim dan Turmidzi :

    ﺍﻟﺮﺅﻳﺎ ﺛﻼﺛﺔ ﻓﺮﺅﻳﺎ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﺑﺸﺮﻯ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺅﻳﺎ ﺗﺤﺰﻳﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﺭﺅﻳﺎ ﻣﻤﺎ ﻳﺤﺪﺙ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻧﻔﺴﻪ

    Artinya : Mimpi itu ada tiga katagori, yaitu : ru’ya shalihah, yaitu kabar gembira dari Allah, mimpi yang menyedihkan yang datang dari syaithan dan mimpi karena obsesi seseorang.(H.R. Muslim28 dan Turmidzi 29 )

    Hadits ini juga menjelaskan bahwa mimpi yang dialami oleh seseorang ada tiga katagori, yaitu :

    1. mimpi yang benar sebagai kabar gembira yang datang Allah
    2. mimpi duka cita yang datang dari setan
    3. mimpi karena obsesi seseorang. Artinya mimpi tersebut terjadi karena bawaan pikiran pada waktu dia jaga.

    Sesuai dengan pernyataan Muhammad Ilyas tentang mimpinya di bawah ini, kita dapat menduga bahwa mimpi Muhammad Ilyas mengenai tafsir al-Qur’an Surat : Ali Imran : 110 adalah termasuk dalam katagori mimpi karena bawaan pikiran. Jadi bukan mimpi yang benar yang datang dari Allah SWT. Pernyataan Muhammad Ilyas dimaksud adalah :
    “Kini, dalam mimpi saya, ilmu yang betul dicampakkan (liqa) kepada saya. Oleh itu cubalah supaya tidur saya bertambah”. (maksud, pada masa itu kerana penyakit, tidur beliau telah berkurangan ; maka menurut mesyuarat dengan hekim sahib dan doktor sahib saya telah memberi minyak di kepalanya yang mana tidurnya telah bertambah)

    Muhammad Ilyas berkata :
    “Cara tabligh ini telah dikasyafkan kepada saya dalam mimpi….. dst”.
    Ini merupakan kutipan dari Kitab Malfudhat karangan Mansur Nu’mani yang diterjemahkan dalam Bahasa Melayu (Malaysia).

    Untuk memudahkan memahami kutipan di atas, berikut ini redaksi pernyataan Muhammad Ilyas tersebut yang dikutip dari Kitab Malfudhat oleh pengarang Kasyful Syubhah yang diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Syaikh H. Hasanoel Bashry HG, yakni :

    “Karena ini wahai para pengikutku yang setia usahakanlah tidur pemimpinmu ini nyenyak dan nyaman. Apabila aku kurang tidur karena panas panggil dokter dan orang pintar, pakailah minyak wangi pada kepalaku bila petunjuknya demikian supaya lebih banyak tidurku. Ketahuilah ! aku menemukan jalan bertabligh ini melalui mimpi dan Allah juga mengajariku dalam mimpi penafsiran ayat…..dst.

    Dari rangkaian pernyataan Muhammad Ilyas di atas, nampak jelas pada kita bahwa Muhammad Ilyas sedang sangat terbebani oleh pikiran mencari inspirasi yang dapat menjawab persoalan dakwah, bahkan Muhammad Ilyas sampai-sampai berucap :

    “Apabila aku kurang tidur karena panas panggil dokter dan orang pintar, pakailah minyak wangi pada kepalaku bila petunjuknya demikian supaya lebih banyak tidurku. Ketahuilah ! aku menemukan jalan bertabligh ini melalui mimpi dst…”.

    Berdasarkan uraian di atas, sekali lagi dapat disimpulkan bahwa mimpi Muhammad Ilyas mengenai tafsir al-Qur’an Surat Ali Imran : 110 termasuk dalam katagori mimpi karena obsesi pikiran semata, bukan mimpi yang datang dari Allah. Namun dalam rangka membela pendiri Jama’ah Tabligh (Muhammad Ilyas), Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid menyebutkan bahwa mimpi Muhammad Ilyas yang terjadi karena bawaan pikiran sama halnya dengan keadaan mimpi Abdullah bin Zaid mengenai azan, dimana menurut Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid mimpi Abdullah bin Zaid juga muncul karena konsentrasinya bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat.

    Kita tidak menemukan riwayat yang menceritakan Abdullah bin Zaid terbebani pikiran mencari cara bagaimana mengumpulkan orang shalat. Penulis sengaja pada halaman sebelum ini, mengutip hadits yang menceritakan mimpi Abdullah bin Zaid dengan lengkap, baik riwayat Abu Daud maupun Turmidzi, namun dalam kedua riwayat tersebut tidak terdapat cerita sebagai dakwaan Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid. Menurut hemat kami dakwaan Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid tersebut merupakan kebohongan yang sengaja dilakukan karena kepanatikan membabi buta terhadap pemimpinnya saja.

    1. Dalam Kitab Siraj al-Thalibin, tersebut beberapa pendapat lain mengenai penafsiran hadits mimpi di atas, yakni bahwa dalam mimpi itu ada pemberitahuan tentang yang gaib. Pemberitahuan tentang yang gaib termasuk salah satu martabat kenabian, tapi bukan berarti orang yang bermimpi itu menjadi nabi. Pendapat lain lagi mengatakan bahwa mimpi itu muwafaqat dengan jalan kenabian, bukan mimpi adalah sebagian dari kenabian.

    Dua pendapat terakhir ini juga harus dipahami sebagai mubsyiraat (kabar gembira), karena dalil-dalil tersebut di atas.

    DAFTAR PUSTAKA:

    1.Al-Baidhawy, Tafsir Anwarul Tanzil wa Asrarul Ta’wil, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juzu’II, Hal 36
    2.Ahmad Shawy, Tafsir al-Shawy, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juzu’ I dengan Hamisynya, Tafsir Jalalain, Hal. 172 dan Imam Abdullah An-Nasafy, Hamisy Tafsir Kazin, Juz I, Hal. 265
    3.Al-Kazin, Tafsir al-Kazin, Juz I, Hal. 265
    4.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Thaibah, Juz. II, Hal. 93
    5.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Thaibah, Juz. II, Hal. 93
    6.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. VI, Hal. 37, No. Hadits : 4557
    7.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Thaibah, Juz VIII, Hal. 388
    8.Ahmad Shawy, Tafsir Shawy dan Tafsir al-Jalalain, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 313
    9.Fath al-Rahman li Thalib ayat al-Qur’an, Maktabah Dahlan, Indonesia, Hal. 478
    10.Jalalain, Tafsir al-Jalalain, dalam Tafsir al-Shawy, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 37-38
    11.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Thaibah, Juz. III, Hal. 314
    12.Jalalain, Tafsir al-Jalalain, dalam Tafsir al-Shawy, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. III, Hal. 374
    13.Baidhawy, Tafsir al-Baidhawy, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juz. V, Hal. 29. lihat juga Thabary, Tafsir al-Thabary, Muassasah Risalah, Juz. XXI, Hal. 297
    14.Jalalain, Tafsir al-Jalalain, Dalam Tafsir al-Shawy, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 32
    15.Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Dar ‘Ali al-Kutub, Riyadh, Juz. XVI, Hal. 6
    16.Bukhari, Shahih al-Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. IX, Hal 30, No. Hadits : 6988
    17.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal. 1774, No. Hadits : 2263
    18.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal. 1774, No. Hadits : 2263
    19.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal. 1774, No. Hadits : 2263
    20.Zarkasyi, Bahrul Muhizh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 48
    21.Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jafsy al-Kidiry, Siraj al-Thalibin, al-Haramain, Surabaya, Juz. I, Hal. 333
    22.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Thaibah, Juz. IV, Hal. 280
    23.Al-Qurthuby, Tafsir al-Qurthuby, Dar ‘Alim al-Kutub, Saudi Arabiya, Juz. VIII, Hal. 358
    24.Thabary, Tafsir al-Thabary, Muassasah Risalah, Juz. XV, Hal. 124-140
    25.Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jafsy al-Kidiry, Siraj al-Thalibin, al-Haramain, Surabaya, Juz. I, Hal. 332
    26.Sunan al-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. III, Hal. 365, No. 2377
    27.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq al-Najh, Juz. IX, Hal. 31, No. Hadits : 6990
    28.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. IV, Hal. 1773, No. Hadits : 2263
    29.Turmidzi, Sunan al-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. III, Hal. 363, No. 2372
    30.Mansur Nu’mani, Malfudhat, (Terjemahan kedalam Bahasa Melayu oleh Humayun Chowdhury), Pustaka Timur, Trengganu, Malaysia, Hal. 40
    31.Syaikh Ahmad Syihabuddin, Kasyful Syubhah,(terjemahan oleh Syaikh Hasanul Basry HG), Hal.4.
    32.Mulwi Ahmad Harun Al-Rosyid, Meluruskan Kesalahpahaman Terhadap Jaulah (Jama’ah Tabligh), Pustaka Haromain, Hal.48
    33.Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jafsy al-Kidiry, Siraj al-Thalibin, al-Haramain, Surabaya, Juz. I, Hal. 333

    Salam Aswaja 🙂

    Mengenal Jama’ah Tabligh Bag.2

    image

    Jama’ah Tabligh (Agama Mimpi) 

    Oleh: Tgk Alizar Utsman

    B AB II

    KEKELIRUAN-KEKELIRUAN JAMA’AH TABLIGH

    Masalah 1

    Maulana Muhammad Ilyas dalam menetapkan metode gerakan Jama’ah Tabligh menggunakan dalil al-Qur’an dengan penafsirannya berdasarkan mimpi.

    Hal ini dikeahui sebagaimana pernyataannya dalam kitabnya, Malfudhat :
    “ Ketahuilah ! Aku menemukan jalan bertabligh ini melalui mimpi dan Allah SWT juga mengajariku dalam mimpi penafsiran ayat :

    ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺧَﻴْﺮَ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃُﺧْﺮِﺟَﺖْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺗَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ

    Artinya : “Kamu sekalian merupakan sebaik-baik ummat yang diutuskan untuk manusia. Engkau menyuruh kepada kebaikan dan melarang segala kemungkaran dan beriman kepada Allah”(Q.S. Ali Imran :110)

    Menurut Maulana Muhammad Ilyas firman Allah SWT lafadh ukhrijat menunjukkan bahwa dakwah ini tidak akan terlaksana dan sempurna apabila cara penyampaiannya hanya menetap pada suatu tempat saja, tetapi harus dilaksanakan keluar dari daerah sendiri.

    Kemudian Muhammad Ilyas menambahkan, bahwa yang dimaksud dengan sebaik-baik umat pada ayat tersebut adalah bangsa Arab, yaitu dia sendiri dan yang dimaksud dengan manusia yang menjadi sasaran dakwah adalah bangsa bukan Arab. Karena mengenai bangsa Arab sudah ada ayat

    ﻟﻴﺲ ﻋﻠﺒﻬﻢ ﺑﻤﺼﻴﻄﺮ

    dan ayat

    ﻭﻣﺎﺃﻧﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﻮﻛﻴﻞ

    yang maksudnya adalah mengenai hidayah orang Arab sudah ada kejelasannya dan tidak perlu menjadi beban pikiran bagimu.

    Sedangkan lafazh ﺗﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ menunjukan kepada bahwa keimanan itu akan terus bertambah dengan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

    Berdasarkan pernyataan Muhammad Ilyas di atas, dapat dinyatakan di sini bahwa penafsiran ayat di atas menurut pendiri Jama’ah Tabligh ini, kurang lebih sebagai berikut
    “ Kalian orang-orang Arab (termasuk Muhammad Ilyas sendiri, karena beliau ini menurut catatan adalah keturunan Abubakar Siddiq) adalah sebaik-baik umat yang melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada bangsa bukan Arab. Dengan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar tersebut kamu akan mendapatkan kemajuan keimananmu.”.

    Selanjutnya Muhammad Ilyas dalam mimpinya mendapat bisikan bahwa dakwah untuk Bangsa Arab tidak perlu dihiraukan berdasar dalil Q.S. Al-Ghasyiah : 22 dan .Al-An’am : 107 di atas.

    Keterangan bahwa Muhammad Ilyas mendapatkan penafsiran al-Qur’an melalui mimpi juga dapat diketahui dari pengakuan salah seorang pembela Jama’ah Tabligh, Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid, yaitu :
    “Rasulullah SAW sendiri menjelaskan tentang pembagian mimpi yang hanya tiga. Maka, tidak mungkin mimpi Maulana Muhammad Ilyas yang berisi penjelasan tentang ayat al-Qur’an dan metode dakwah ini hanya sekedar bawaan dari apa yang beliau pikirkan, apalagi berasal dari setan”.

    Lebih lanjut pengertian dakwah ala Jama’ah Tabligh dapat disimak dari pernyataan Maulana Muhammad Ilyas pada kali yang lain sebagaimana kutipan Abul Hasan Ali Nadwy salah seorang yang sangat dekat dan pengikut setia Maulana Muhammad Ilyas,
    “ Sesungguhnya masyarakat Mewat (kelompok masyarakat yang pertama sekali masuk dalam Jama’ah Tabligh, pen.) tidak mungkin dapat merasakan nikmatnya agama dan lezatnya iman, kecuali apabila mereka sanggup mengabdikan sepenuh hati dalam usaha menggalakkan manusia agar meninggalkan kampungnya selama empat bulan, bergerak dari satu negeri kenegeri lainnya untuk menyampaikan agama dan bahkan menjadikan usaha dakwah ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka”.

    Dalam upaya membenarkan penafsirannya terhadap ayat Q.S. Ali Imran : 110 dengan berdasarkan mimpi sebagaimana tersebut di atas, Muhammad Ilyas mengutip hadits Nabi SAW yang berbunyi :
    “ Mimpi adalah satu perempat puluh enam dari pada nubuwah (kenabian)”

    Timbul pertanyaan :

    1. Bolehkah berhujjah dengan menggunakan dalil mimpi dalam menafsirkan Al-qur’an dan penetapan hukum?
    2. bagaimanakah tafsir Q.S. Ali Imran : 110 menurut ahli tafsir yang muktabar di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah ?

    3. Bagaimanakah penafsiran hadits Nabi “mimpi adalah satu perempat puluh enam dari pada nubuwah (kenabian)” menurut tafsir yang muktabar ?

    Analisis

    1. Jawaban pertanyaan pertama
      Dalam khazanah sejarah penggalian hukum Islam tidak pernah dikenal penetapan suatu hukum atau penafsiran ayat Al-Qur’an berdasarkan mimpi, mulai dari sahabat Nabi sampai dengan sejarah imam-imam mujtahid. Manusia selain Nabi adalah tidak ma’shum.

    Tidak ada jaminan mimpi seorang manusia selain Nabi tidak dipengaruhi bisikan-bisikan syaithan. Hanya mimpi para Nabi merupakan kebenaran sebagaimana mimpi Nabi Ibrahim diperintah Allah SWT menyembelih anaknya, Ismail.

    Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

    ﻟَﻘَﺪْ ﺻَﺪَﻕَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺍﻟﺮُّﺅْﻳَﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ 

    Artinya : Sesungguhnya Allah telah membenarkan Rasul-Nya mengenai mimpi yang haq.(Q.S. Al-Fath : 27)

    Ahmad Shawy dalam menafsirkan ayat di atas, mengatakan bahwa Allah menjadikan mimpi Rasul-Nya sebagai suatu yang benar dan pasti, yang tidak dapat diganggu oleh Syaithan. Karena Rasul Allah itu ma’shum termasuk di dalamnya Rasulullah SAW dan para Anbiya.6 Berdasarkan keterangan Tafsir Shawy ini dapat dipahami mimpi selain Rasul Allah tidak dapat dijadikan pegangan apa lagi dalam berhujjah, karena selain Rasul Allah tidak ma’shum dan tidak ada jaminan mimpi tersebut benar-benar datang dari Allah SWT dan bukan dari bisikan Syaithan.

    Keterangan ulama muktabar lainnya mengenai kedudukan mimpi dalam penetapan hukum antara lain :

    1. Ibnu Shalah dalam kitab Fatawanya :
      “Masalah : Seorang laki-laki mendakwa dirinya bermimpi bertemu Nabi SAW dalam tidurnya. Nabi SAW mengatakan suatu perkataan yang mengandung hukum syar’i, maka apakah boleh mengamalkannya ?. Beliau (Ibnu Shalah) menjawab : “Tidak boleh memegang hal itu berdasarkan apa yang dilihat dan didengar dari Rasulullah SAW dalam mimpinya. Hal ini bukanlah karena tidak percaya bahwa orang yang melihat Rasulullah SAW dalam mimpi, maka ia melihat kebenaran. Itu dapat dipercaya, tetapi karena tidak dapat dipercaya zhabith orang yang bermimpi tersebut.”
  • Ketidakhujjahan mimpi dalam penetapan hukum juga dapat kita simak dari pernyataan Zarkasyi dalam Bahrul Muhizh bahwa hukum tidak dapat ditetapkan berdasarkan mimpi kecuali pada diri anbiya atau pengakuan mereka.

  • Al-Ustaz Abu Ishaq Syairazi berkata :
    “Tidak boleh menetapkan sesuatu berdasarkan mimpi. Oleh karena itu, kalau seseorang bermimpi melihat Nabi SAW memerintahnya menetapkan sesuatu hukum, maka tidak lazim mengikutinya”.

  • Ketidakhujjahan mimpi juga dapat dipahami dari uraian Ibrahim Bajuri dalam Hasyiah al-Bajury dalam menjawab isykal masalah penetapan azan dengan mimpi Zaid bin Abdullah yang tersebut dalam riwayat Abu Daud dan Turmidzi.

  • Riwayat Abu Daud berbunyi :

    ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﻗﺎﻝ ﻟﻤﺎ ﺃﻣﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺑﺎﻟﻨﺎﻗﻮﺱ ﻳﻌﻤﻞ ﻟﻴﻀﺮﺏ ﺑﻪ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻟﺠﻤﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻃﺎﻑ ﺑﻲ ﻭﺃﻧﺎ ﻧﺎﺋﻢ ﺭﺟﻞ ﻳﺤﻤﻞ ﻧﺎﻗﻮﺳﺎ ﻓﻲ ﻳﺪﻩ ﻓﻘﻠﺖ ﻳﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺗﺒﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﻗﻮﺱ ؟ ﻗﺎﻝ ﻭﻣﺎ ﺗﺼﻨﻊ ﺑﻪ ؟ ﻓﻘﻠﺖ ﻧﺪﻋﻮ ﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻗﺎﻝ ﺃﻓﻼ ﺃﺩﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ؟ ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ ﺑﻠﻰ ﻗﺎﻝ ﺗﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻼﺡ ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻼﺡ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﺛﻢ ﺍﺳﺘﺄﺧﺮ ﻋﻨﻲ ﻏﻴﺮ ﺑﻌﻴﺪ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺛﻢ ﺗﻘﻮﻝ ﺇﺫﺍ ﺃﻗﻤﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻼﺡ ﻗﺪ ﻗﺎﻣﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻗﺪ ﻗﺎﻣﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ . ﻓﻠﻤﺎ ﺃﺻﺒﺤﺖ ﺃﺗﻴﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻓﺄﺧﺒﺮﺗﻪ ﺑﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻘﺎﻝ ” ﺇﻧﻬﺎ ﻟﺮﺅﻳﺎ ﺣﻖ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻘﻢ ﻣﻊ ﺑﻼﻝ ﻓﺄﻟﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻠﻴﺆﺫﻥ ﺑﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﺃﻧﺪﻯ ﺻﻮﺗﺎ ﻣﻨﻚ ” ﻓﻘﻤﺖ ﻣﻊ ﺑﻼﻝ ﻓﺠﻌﻠﺖ ﺃﻟﻘﻴﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﺆﺫﻥ ﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﻓﺴﻤﻊ ﺫﻟﻚ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﻫﻮ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ﻓﺨﺮﺝ ﻳﺠﺮ ﺭﺩﺍﺀﻩ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻭﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻚ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻘﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﺭﺃﻯ . ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ” ﻓﻠﻠﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ ” ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ”

    Artinya :Abdullah bin Zaid berkata : Ketika Rasulullah SAW memerintah memukul lonceng untuk mengumpulkan manusia untuk shalat, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya : Hai hamba Allah apakah kamu hendak menjual lonceng itu. Orang tersebut malah bertanya,” Untuk apa? Aku menjawabnya, “Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan shalat.” Orang itu berkata lagi, “Maukah kau kuajari cara yang lebih baik?” Dan aku menjawab “Ya!” Lalu dia berkata : Engkau katakan : Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya ‘alash shalah Hayya ‘alash shalah, Hayya ‘alal falah Hayya ‘alal falah, Allahu Akbar Allahu Akbar La ilaha illallah. Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Muhammad SAW menceritakan perihal mimpi itu kepadanya, kemudian Muhammad berkata, “Itu mimpi yang haq insya Allah. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan azan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal. Umar bin Khatab r.a. yang lagi berada di rumahnya mendengar azan itu, maka Umarpun keluar dengan menjulurkan rida’nya, kemudian berkata : Demi Tuhan yang mengutus engkau hai Muhammad dengan kebenaran, sesungguhnya aku telah bermimpi sebagaimana yang telah dia mimpikan. Maka Rasulullah bersabda : bagi Allah segala pujian. Berkata Abu Daud : Hadits ini hasan shahih (H.R. Abu Daud)

    dan Riwayat Turmidzi, berbunyi :

    ﻟﻤﺎ ﺃﺻﺒﺤﻨﺎ ﺃﺗﻴﻨﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﺄﺧﺒﺮﺗﻪ ﺑﺎﻟﺮﺅﻳﺎ، ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﻥ ﻫﺬﻩ ﻟﺮﺅﻳﺎ ﺣﻖ، ﻓﻘﻢ ﻣﻊ ﺑﻼﻝ، ﻓﺈﻧﻪ ﺃﻧﺪﻯ ﻭﺃﻣﺪ ﺻﻮﺗﺎ ﻣﻨﻚ، ﻓﺄﻟﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻗﻴﻞ ﻟﻚ، ﻭﻟﻴﻨﺎﺩ ﺑﺬﻟﻚ، ﻗﺎﻝ ﻓﻠﻤﺎ ﺳﻤﻊ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﻧﺪﺍﺀ ﺑﻼﻝ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﺧﺮﺝ ﺇﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻫﻮ ﻳﺠﺮ ﺇﺯﺍﺭﻩ، ﻭﻫﻮ ﻳﻘﻮﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻚ ﺑﺎﻟﺤﻖ، ﻟﻘﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺎﻝ، ﻗﺎﻝ : ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﻓﻠﻠﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ، ﻓﺬﻟﻚ ﺃﺛﺒﺖ “.

    Artinya : Ketika pagi tiba, aku ( Abdullah bin Zaid) mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan mimpiku. Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya ini adalah mimpi yang haq. Maka lakukanlah bersama bilal, karena suara Bilal lebih lantang dan nyaring darimu. Ajarilah dia apa yang dikatakan kepadamu dan hendaklah Bilal melakukan azan dengannya. Manakala mendengar azan Bilal untuk shalat, Umar bin Khatab keluar dengan menjulurkan rida’nya, menemui Rasulullah SAW dan berkata : Ya Rasulullah, demi Tuhan yang mengutuskan engkau dengan kebenaran, sesungguhnya aku telah melihat dalam mimpiku sama seperti yang dikatakannya. Bersabda Rasulullah SAW : Bagi Allah pujian. Karena itu, aku tetapkan demikian. (H.R. Turmidzi)

    Ibrahim al-Bajuri berkata :
    “Diisykalkan yang demikian itu, dengan sebab bahwa sesungguhnya hukum tidak dapat ditetapkan dengan mimpi. Dijawab, bahwa mimpi tersebut bersesuaian dengan turun wahyu. Maka hukum (penetapan azan) ditetapkan dengan wahyu bukan dengan mimpi”.
    Hal senada juga dapat dilihat dalam Kitab I’anatuthalibin.

    Pernyataan yang lebih tegas lagi dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam mengomentari hadits di atas, yakni :

    “Hal tersebut bukanlah pengamalan dengan semata-mata mimpi. Ini termasuk sesuatu yang tidak diragukan dengan tanpa khilaf”.

    1. Imam al-Nawawi mengatakan :
      “Kalau pada malam tiga puluh Sya’ban manusia tidak melihat hilal, tiba-tiba datang seseorang mengaku melihat Nabi SAW dalam mimpinya dan beliau bersabda kepadanya : “Malam ini adalah awal Ramadhan, maka tidak sah puasa dengan mimpi ini, tidak sah atas yang bermimpi dan tidak sah juga atas orang lain.

    Keterangan ini telah disebut oleh Qadhi Husain dalam al-Fatawa dan lainnya dari Ashhab kita. Qadhi ‘Iyadh telah mengutipnya sebagai ijmak. Saya (al-Nawawi) telah menetapkannya dengan dalil-dalilnya pada awal Syarah Shahih Muslim. Ringkasannya adalah bahwa syarat perawi, yang meyampaikan berita dan saksi adalah dalam keadaan jaga pada ketika tahammul. Ini mujma’ ‘alaihi, karena sebagaimana di maklumi bahwa bahwa tidur tidak dalam keadaan jaga dan tidak ada dhabith.

    Oleh karena itu, meninggalkan mengamalkan mimpi ini karena cedera dhabith perawi, bukan karena meragukan mengenai mimpi.

    Pernyataan Imam an-Nawawi di atas, memfatwakan bahwa menentukan awal Ramadhan tidak boleh dengan berpedoman kepada mimpi. Ketidakbolehan ini bukan karena meragukan kebenaran mimpi, apalagi mimpi itu adalah mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, tetapi karena orang yang bermimpi itu bukan ahli tahammul berita, karena dia dalam keadaan tidur.

    Oleh karena itu, ketidakbolehan mengamalkan mimpi dalam penetapan hukum bukan hanya berlaku untuk masalah puasa saja, tetapi juga untuk masalah-masalah yang lain, seperti masalah khuruj ala Jama’ah Tabligh. Keterangan yang dikemukakan oleh an-Nawawi di atas, juga dikemukan oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dan Bujairumi sebagaimana di bawah ini.

    1. Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan :
      “Tidak berpuasa dengan sebab bermimpi berjumpa Rasulullah SAW dalam tidur yang mengatakan bahwa besok bulan Ramadhan, karena jauh dhabith orang bermimpi, bukan diragukan mimpinya”

    Syarwani dalam mengomentari pernyataan Ibnu Hajar di atas mengatakan haram berpuasa dan lainnya dengan menyandarkan kepada mimpi tersebut. Alasan beliau adalah karena hukum Allah tidak didapati kecuali dari lafazh dan istinbath. Sedangkan berpuasa dengan mimpi tidak termasuk dalam keduanya.

    1. Bujairumi dalam pembahasan penentuan awal Ramadhan, mengatakan :
      “Tidak diiktibar pula perkataan orang yang mengatakan : “Nabi SAW telah mengabari dalam tidurku bahwa malam ini adalah awal Ramadhan.” Maka tidak sah puasa dengannya dengan ijmak, karena tidak ada dhabith orang yang bermimpi, bukan karena diragukan yang dilihat dalam mimpinya.”

    Berdasarkan pernyataan para ulama di atas, dapat dipahami bahwa para ulama besar tersebut sepakat bahwa mimpi tidak dapat dijadikan hujjah dalam penetapan hukum. Oleh karena itu, dalam kalangan Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, kita hanya mengenal sumber – sumber hukum, yaitu : Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas, Qaulul Shahaby, Ishtishhab, Maslahah Murshalah, Istihsan, Saddul Zara-i’, Kebiasaan Penduduk Madinah. Mimpi atau ilham tidak termasuk di dalamnya. Mengenai ilham, telah berkata Syekh Zakaria Al-Anshary :
    “Ilham yang terjadi pada manusia yang tidak ma’shum tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, karena tidak aman dari tipu daya syaithan”.

    Khusus mengenai penafsiran Al-Qur’an, berikut keterangan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengenai sumber-sumber tafsir yang dapat menjadi pedoman dalam melakukan penafsiran Al-Qur’an, antara lain :

    1. Ibnu Katsir dalam menjelaskan metode tafsirnya mengatakan :
      “ Pada ketika itu, apabila kita tidak mendapatinya dalam Al-Qur’an dan juga tidak pada sunnah, maka kita kembali kepada pendapat sahabat, karena mereka lebih tahu tentang itu”.
      Terjadi perbedaan pendapat ulama mengenai qaul tabi’in. Menurut pendapat yang shahih tidak menjadi hujjah.
  • Berkata Ahmad`Shawy :
    “Sumber tafsir adalah al-Kitab, al-Sunnah, atsar dan ahli fashahah dari orang-orang Arab asli.”

  • Zarkasyi menjelaskan kepada kita bahwa ada empat sumber tafsir, yaitu naqal (kutipan) dari Rasulullah SAW, perkataan sahabat, muthlaq lughat dan muqtazhaa makna kalam dan muqtazhaa kekuatan syara’. Penggunaan perkataan sahabat adalah karena perkataan sahabat ditempatkan pada posisi marfu’. Sedangkan perkataan tabi’in terjadi perbedaan ulama dalam menjadikannya sebagai sumber tafsir.

  • Memperhatikan keterangan ulama di atas, kita bertanya-tanya, pedoman apa yang dipergunakan oleh Maulana Muhammad Ilyas, pendiri Jama’ah Tabligh ini sehingga berani mentafsirkan suatu firman Allah berdasarkan mimpinya ?

    Sebagian pengikut Jama’ah Tabligh (Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid) dalam membenarkan penafsiran al-Qur’an dengan mempedomani mimpi ini ada yang mengutip pendapat Ibnu Daqiq al-‘Id yang dikutip oleh Zarkasyi dalam Kitab Bahrul Muhizh, yaitu
    “Apabila perintahnya dengan sebuah perintah yang penetapannya pada waktu jaga adalah sebaliknya, seperti perintah meninggalkan wajib atau perintah meninggalkan sunat, maka tidak boleh mengamalkannya dan apabila perintah dengan sesuatu yang tidak ada penetapan sebaliknya pada waktu jaga, maka dianjurkan mengamalkannya”.

    Argumentasi Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid ini kita bantah dengan beberapa penjelasan, yaitu :

    1. Pendapat Ibnu Daqiq al-‘Id ini adalah pendapat dha’if (wajh dha’if). Jadi tidak dapat dijadikan hujjah dalam penetapan suatu hukum, apalagi sebagai pedoman dalam menafsirkan al-Qur’an. Ini sesuai dengan keterangan pengarang Bahrul Muhith sebelumnya pada halaman yang sama, yaitu :

    “ Pendapat yang kuat adalah yang pertama, karena hukum tidak dapat ditetapkan berdasarkan mimpi kecuali pada haq anbiya atau pengakuan mereka.”

    1. Kalaupun kita berpedoman kepada pendapat Ibnu Daqiq al-‘Id di atas, maka mimpi yang boleh diamalkan menurut beliau adalah mimpi yang tidak bertentangan dengan ketetapan hukum yang wujud pada waktu jaga.

    Berdasarkan uraian pada jawaban yang kedua setelah ini, jelas nampak bahwa tafsir Q.S. Ali Imran :110 ala Muhammad Ilyas adalah bertentangan dengan tafsir yang bersumber dari sahabat Nabi dan ketetapan hukum yang ditetapkan para ulama muktabar di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, kalaupun kita membenarkan pendapat Ibnu Daqiq al-‘Id di atas, toh tetap tidak dapat membenarkan tafsir mimpi ala Muhammad Ilyas tersebut.

    DAFTAR PUSTAKA:

    1. Mansur Nu’mani, Malfudhat, (Terjemahan kedalam Bahasa Melayu oleh Humayun Chowdhury), Pustaka Timur, Trengganu, Malaysia, Hal. 40-42, dan lihat Syaikh Ahmad Syihabuddin, Kasyf al- Syubhah,(terjemahan oleh Syaikh Hasanul Basry HG), Hal.4.
    2. Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid, Meluruskan kesalahpahaman Terhadap Jaulah (Jama’ah Tabligh), (Terjemahan oleh Mulwi Muhammad Makmun), Pustaka Haromain, Hal. 48
    3. Abul Hasan Ali Nadwy, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, (terjemahan oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff, Yogyakarta Hal 54
    4. Mansur Nu,mani, Malfudhat, (Terjemahan oleh Humayun Chowdhury), Pustaka Timur, Trengganu, Malaysia, Hal. 40
    5. Al-Baidhawy, Tafsir Anwarul Tanzil wa Asrarul Takwil, Muassasah Sya’ban, Beirut, Juzu’ V, Hal 9 dan Ahmad Shawy, Tafsir Shawy, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juzu’ III, Hal. 342
    6. Ahmad Shawy, Tafsir Shawy, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia Juz. IV, Hal 105
    7. Ibnu Shalah, Fatawa Ibnu Shalah, Darul Hadits, Kairo, Hal. 135
    8. Zarkasyi, Bahrul Muhizh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 49
    9. Zarkasyi, Bahrul Muhizh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 49
      10.Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 189, No. Hadits : 499
      11.Turmidzi, Sunan al-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 122, No. Hadits : 189
      12.Ibrahim al-Bajury, Hasyiah al-Bajury, al-Haramain, Singapura, Juz I, Hal. 160
      13.Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juzu’ I, Hal. 229.
    10. An- Nawawi, Syarah Muslim, Darul Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 76
      15.An-Nawawi, Majmu’ Syarah Muhazzab, Maktabah Irsyad, Jeddah, Juz. VI, Hal. 292
      16.Ibnu Hajar al-Haitamy dan Syarwani, Tuhfah al-Muhtaj dan Hasyiahnya, Mathtba’ah Mustafa Muhammad, Mesir, Juz. III, Hal. 373-374
    11. Bujairumy, Hasyiah al-Bujairumy ‘ala al-Khatib, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 102
    12. Zakariya al-Anshary, Ghayatul Wushul Syarah Labbul Ushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal 140 dan Al-Banany, Hasyiah Albanany ‘ala Syarah Jam’ul Jawami’, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Juzu’ II, Hal. 356
      19.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Thaibah, Juz. I, Hal. 7 dan 10
      20.Ahmad Shawy, Tafsir al-Shawy, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juzu’ I, Hal. 2
      21.Zarkasyi, al_Burhan fi Ulum al-Qur’an, Darul Ma’rifah, Beirut, Juz. II, Hal. 156-161
      22.Mulwi Ahmad Harun Al-Rasyid, Meluruskan Kesalapahaman Terhadap Jaulah (Jama’ah Tabligh), Pustaka Haramain, Hal. 47
    13. Zarkasyi, Bahrul Muhizh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 49

    Salam Aswaja 🙂

    Mengenal Jama’ah Tabligh Bag.1

    image

    Jama’ah Tabligh (Agama Mimpi) 

    Oleh Tgk Alizar Utsman

    BAB I.

    JAMA’AH TABLIGH DAN LATAR BELAKANGNYA

    A. Kelahiran Maulana Muhammad Ilyas, Pendiri Jama’ah Tabligh.

    Kandhla , sebuah desa Muzhafar Nagar dikawasan Utara Pradesh, India adalah tempat Maulana Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya, beliau lahir pada tahun 1303 H/1886 M dengan nama lengkap Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Ismail, tinggal di Nizhamuddin, New Delhi, ibukota India.

    Syekh Muhammad Ismail adalah seorang rohaniwan besar, berasal dari lingkungan keluarga yang memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu dan agama di tempat tinggalnya. Bahkan konon nasabnya sampai kepada Abubakar Siddiq r.a. Maulana Muhammad Ilyas merupakan tiga bersaudara, yaitu Syekh Muhammad, saudara tertua dari isteri pertama ayahnya, Syekh Muhammad Yahya dan Maulana Muhammad Ilyas, kedua-duanya dari isteri kedua.

    B. Masa Kecil dan Pendidikan Maulana Muhammad Ilyas.

    Maulana Muhammad Ilyas, sebagaimana biasanya anak-anak dilingkungan keluarganya, memulai pendidikannya di ibtida’ belajar Alqur’an dan menghafalnya. Kepeduliannya terhadap agama dan dakwah sangat tinggi. Saudara tuanya, Maulana Muhammad Yahya berguru kepada seorang alim dan pembaharu, Syekh Rasyid Ahmad Al-Gangohi, di desa Gangoh kawasan Saharanpur, Utar Predesh, India.

    Mengikuti ajakan saudaranya itu, Maulana Muhammad Ilyas turut berguru kepada Syekh Rasyid Ahmad menyerap ilmu-ilmu agama ketika berusia sepuluh tahun atau sebelas tahun. Dan ketika Syekh Rasyid al-Gangohi wafat pada tahun 1323 H, Maulana telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun.

    Dengan demikian beliau telah menemani Syekh Rasyid selama sepuluh tahun. Maulana Muhammad Ilyas mempunyai hubungan khusus dan istimewa dengan gurunya itu sehingga ketika meninggal Syekh Rasyid Ahmad Al-Gangohi, beliau pernah berkata :
    “Pada saat kematian guruku, Syekh Al-Gangohi, sungguh aku telah menangis sehingga habis air mataku”. Dan Syekh Al-Gangohi telah menerima bai’at Maulana Muhammad Ilyas sewaktu dia masih pelajar.

    Siapakah Syekh Rasyid Ahmad al-Gangohi ?
    Syekh Sayed Ahmad Syihabuddin menjelaskan bahwa beliau merupakan salah seorang diantara sekian banyak pengikut Muhammad Abdul Wahab (pencetus ajaran Wahabi) yang mengkafirkan umat Islam karena bertawasul dengan Nabi dan hamba Allah SWT yang shalih.

    Sebagaimana ikutannya, Muhammad bin Abdul Wahab, Syekh Rasyid Ahmad al-Qangohi menganggap bahwa membaca Maulid dan berdiri disaat zikir Maulid Nabi SAW adalah bid’ah yang keji dan perilaku yang yang berlebihan dalam agama yang tidak dikerjakan kecuali orang-orang yang bodoh.

    Dan demikian juga Rasyid al-Gangohi berpendapat membaca al-Fatihah pada hari ketiga atau keempat hari kematian tidak ada dasar hukumnya dan tidak dibenarkan sama sekali.

    Apakah Maulana Muhammad Ilyas terpengaruhi dengan ajaran pengikut Jama’ah Wahabiyah ini ? jawabnya wallahu a’lam bishshawab.

    Tetapi menurut Syekh Syihabuddin di atas, Rasyid adalah orang yang pertama yang menjadi panutan Maulana Muhammad Ilyas serta mengklaim bahwa Rasyid adalah seorang mujaddid dan qutub al-irsyad (dua gelar yang sangat dihormati dan dikagumi dalam dunia Islam.

    Hubungan Maulana Muhammad Ilyas dengan Rasyid al-Qangohi juga dapat disimak dari penuturan Muhammad Ilyas ketika bertemu dengan menantu Rasyid al-Qangohi :
    “ Telah kudapatkan nikmat agama melalui ahli keluarga anda. Aku adalah budak keluarga anda. Apabila seorang budak mendapatkan sesuatu yang baik, maka sepatutnyalah ia menghidangkannya kepada tuannya sebagai hadiah. Aku ini budak, telah mendapatkan warisan kenabian dari keluarga anda”.

    C. Guru-Guru Maulana Muhammad Ilyas

    Guru-guru Maulana Ilyas antara lain :

    1. Syekh Muhammad Ismail, ayah beliau sendiri
    2. Syekh Rasyid Ahmad Aa-Gangohi, seorang alim, pembaharu pengikut Wahabi berdomosili di Desa Gangoh, kawasan Shaharanpur Wilayah Utar Pradesh, India

    3. Syekh Mahmud Hasan, terkenal sebagai Syekh Hindi, Ketua Pengajaran dan Guru Hadits Darul Ulum Deoband, India

    4. Syekh Muhammad Yahya, saudara kandungnya

    5. Maulana Ilyas juga pernah berbai’at kepada Syekh Khalil Ahmad As-Shaharunpuri, penulis Kitab Badzlul Majhud Fi Hili al-Fafazhi Abi Daud

    D. Meninggal Dunia

    Pada malam hari tanggal 13 Juli 1944 M Maulana Muhammad Ilyas telah besiap-siap untuk menempuh perjalannya terakhir. Ketika malam menjelang pagi, beliau mencari puteranya, Syekh Muhammad Yusuf .

    Ketika datang, Maulana berkata kepada puteranya itu :
    “Kemarilah engkau, aku ingin memelukmu, tidak ada waktu setelah malam ini. Sesungguhnya aku akan pergi “.

    Sebelum adzan Shubuh, Maulana Muhammad Ilyas menhembus nafas terakhir. Setelah Shalat Shubuh orang-orang telah mengangkat Syekh Muhammad Yusuf sebagai pengganti Maulana dan mereka mengikat sorban Maulana di kepalanya.

    E. Kelahiran Jama’ah Tabligh

    Pada Bulan Syawal Tahun 1344 H, Maulana menunai ibadah haji yang kedua kalinya. Pada kesempatan haji yang kedua inilah terbuka hatinya untuk memulai usaha dakwah dan pergerakan agama yang menyeluruh. Sepulang beliau dari haji di Makkah, dalam sebuah pertemuan di Nooh, kawasan Mewat, Maulana menawarkan kepada khalayak ramai agar jama’ah untuk keluar (Khuruj) di kampung-kampung tetangga dalam rangka menyampaikan dakwah.

    Pada saat itu banyak hadirin yang bersedia dan meminta waktu untuk persiapan. Setelah genap satu bulan terbentuklah jama’ah dan mereka menentukan rute kampung yang akan dikunjungi (Jaulah). Seterusnya jama’ah tersebut bergerak dari satu rute ke rute lainnya. Inilah awal berdirinya gerakan Jama’ah Tabligh.

    F. Jama’ah Tanpa Nama

    Sebenarnya Maulana Muhammad Ilyas sewaktu memulai usaha jama’ah ini tidak memberi sebuah nama sebagaimana lazimnya sebuah jamaah. Karena jama’ah ini penekanannya lebih kepada tabligh, maka dunia Internasional menyebut dengan nama Jama’ah Tabligh.

    Namun di Indonesia nama jama’ah tabligh terjadi perbedaan menurut daerah. Di Nusa Tenggara Barat ada yang menyebut dengan nama Jama’ah Kompor karena sering menjinjing kompor dalam perjalanan khuruj. Di Aceh ada yang menyebutnya Awak Majeulih Taklem (Kelompok Majelis Taklim) karena sering mengajak masyarakat mendengar pembacaan taklim Kitab Fadhailul A’mal.

    Ada juga yang memanggil jamaah ini awak meukupiah puteh atau awak meujanggot. Penyebutan dengan nama dua terakhir ini karena para jama’ah menyenangi memakai peci putih (di Aceh sering disebut peci haji, karena biasanya orang yang baru pulang haji kerap memakai peci ini) dan memelihara jenggot sebagai usaha mengikuti Sunnah Nabi SAW.

    Untuk kawasan Medan, Jama’ah sering dipanggil dengan Jama’ah Jalan Gajah, karena markaz perhimpunan jama’ah terletak pada mesjid kecil di jalan Gajah Medan. Warga Jakarta dan Pulau Jawa menyebut jamaah ini dengan Jama’ah Mesjid Kebun Jeruk. Mesjid yang beralamat di Jalan Hayam Wuruk No. 83 Jakarta Pusat merupakan pusat Jama’ah Tabligh di Jakarta dan sekitarnya.

    Dari sekian banyak nama-nama yang menjadi panggilan para jamaah, nampaknya nama Jama’ah Tabligh merupakan nama yang terpopuler dan dianggap resmi baik oleh para jama’ah sendiri maupun orang luar jama’ah.

    G. Enam Prinsip Yang Harus Digunakan Jama’ah Tabligh dalam Dakwahnya

    Enam prinsip tersebut adalah :
    Pertama :memasukkan hakikat kalimat thaiyibah Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah

    Kedua : shalat kusyu’ dan khudhu’

    Ketiga : ilmu dan zikir

    Keempat : ikramul muslimin, yaitu memuliakan saudara muslim

    Kelima : tashlihul niat, yakni meluruskan niat

    Keenam :dakwah ilallah dan khuruj fiisabilillah, yakni menyeru manusia kepada Allah keluar di jalan Allah.

    H. Kitab/Buku yang Sering Digunakan Sebagai Pedoman Ibadah dan Berdakwah Oleh Jama’ah Tabligh

    Kitab/buku tersebut antara lain :

    1. Malfudhat Hazhrat Maulana Muhammad Ilyas., susunan Manzhur Nu’many Buku ini sudah diterjemah dalam Bahasa Indonesia dengan judul Mutiara Hikmah Ulama Ahli Dakwah.
  • Fadhailul A’mal, karangan Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi, dengan berbagai terjemahannya dalam Bahasa Indonsia. Buku ini yang tebalnya sampai dengan 726 halaman lebih banyak menjelaskan kelebihan-kelebihan amal dan ibadah. Buku terdiri dari 7 bagian, yaitu : Fadhilah Shalat, Fadhilah Zikir, Fadhilah Qur’an, Fadhilah Tabligh, Fadhilah Ramadhan, Hikayat Para Shahabat dan Keruntuhan Ummat. Buku Fadhaillul A’mal ini sangat populer dikalangan Jama’ah Tabligh Indonesia dan Aceh khususnya.

  • Al-Hadits al-Muntakhabah, dihimpun oleh Maulana Muhammad Yusuf al-Kandahlawi. Beliau adalah putra sulung dari Maulana Muhammad Ilyas. Kitab ini disusun kembali dengan beberapa penambahan oleh Maulana Muhammad Sa’ad al-Kandahlawi. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia oleh M.Q. al-Hakim dengan judul Hadits-Hadits Pilihan Dalil-Dalil Enam Sifat Para Sahabat.

  • Fadhilah Sadaqah, karangan Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Buku ini terdiri dari tujuh pasal, yaitu Keutamaan Menginfak Harta, Celaanan Terhadap Kekikiran, Keutamaan Silaturrahmi, Penegasan Atas Zakat, Ancaman Atas Orang Yang Tidak Menunaikan Zakat, Anjuran Atas Zuhud, Qana’ah dan Tidak Meminta, dan Tujuh Puluh Cerita Tentang Ahli Zuhud dan Bersedeqah di Jalan Allah.

  • Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, karangan Sayyed Abu Hasan Ali Nadwi, dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Buku ini menceritakan riwayat hidup Syekh Maulana Muhammmad Ilyas, pendidikan dan perjalanan hidupnya dalam usaha membentuk dan mengembangkan Jama’ah Tabligh.

  • Satu-satunya Cara Memperbaiki Kemerosotan Umat Islam di Zaman ini, karangan Syekh Maulana Istihyamulhasan (Dicetak Dalam Kitab dengan Himpunan Fadhailul A’mal karangan Syekh Zakariyya al-Kandahlawi).

  • Otobiografi Kisah-Kisah Kehidupan Syaikhul Hadits Maulana Zakariyya al- Kandhalawi, Karangan Maulana Zakariyya al- Kandhalawi.

  • Hayah Shahabah, karangan Maulana Muhammad yusuf

  • I. Tokoh-Tokoh Jama’ah Tabligh

    Adapun tokoh-tokoh Jama’ah Tabligh adalah antara lain :

    1. Maulana Muhammad Ilyas, beliau lahir pada tahun 1303 H/1886 M Kandhla, India, penggagas pertama berdirinya Jamaah Tabligh sekaligus pemimpin pertama Jamaah Tabligh
  • Maulana Muhammad Yusuf, putra Maulana Muhammad Ilyas, pengganti ayahnya setelah Muhammad Ilyas meninggal dunia. Beliau menyusun kitab antara lain al-Muntakhab al-Hadits, dan buku Khuruj fi Sabilillah Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits , yang menjadi buku rujukan bagi para pengikut Jama’ah Tabligh dalam berdakwah.

  • Maulana Istihyamul Hasan, pemimpin Jama’ah Tabligh setelah Maulana Muhammad Yusuf. Beliau mengarang buku antara lain : Satu-Satunya Cara Memperbaiki Kemerosotan Umat Islam di Zaman ini.

  • Maulana Zakariya al-Kandhalawi, lahir 11 Ramadhan 1315 H di kandla, India. Beliau ini adalah keponakan dari Maulana Muhammad Ilyas. Ayah Zakariya, Syekh Muhammad Yahya sauadara sekandung dengan Maulana Muhammad Ilyas.

  • Maulana Zakariya ini seorang penulis buku aktif. Banyak bukunya yang menjadi pedoman bagi para Jama’ah Tabligh. Diantara buku-bukunya yang sangat terkenal di kalangan Jama’ah Tabligh adalah Himpunan Fadhailul Amal. Maulana Zakariya al-Kandhalawi, sebagaimana Maulana Ilyas, pamannya, juga punya hubungan yang sangat dekat dengan Syekh Rasyid Ahmad, seorang pembaharu pengikut Wahabi, bahkan menganggapnya sebagai mursyidnya. Berkata Maulana Zakariyya:
    ” …….dan teman akrab ayah saya, Syaikh mursyid saya, yaitu Syaikh Rasyid Ahmad rah.a., yang jika ditulis segala kebaikan dan keutamaannya, tentu memerlukan sebuah buku yang cukup tebal.

    1. Maulana Manzhur Nu’mani, Seorang tokoh Jama’ah Tabligh yang sangat dekat dengan Maulana Muhammad Ilyas. Beliau ini salah seorang anggota pengurus Rabithah Alam Islami, sering menyertai Maulana Muhammad Ilyas saat khuruj fisabilillah. Beliau menyusun buku Malfudhat Hazhrat Maulana Muhammad Ilyas. Buku sudah diterjemah dalam Bahasa Indonesia dengan judul Mutiara Hikmah Ulama Ahli Dakwah.
  • Abul Hasan Ali Nadwi, sering bersama Maulana Ilyas. Beliau mengarang buku antara lain Riwayat hidup Maulana Muhammad Ilyas. Menurut Manzhur Nu’mani, Abul Hasan Ali Nadwi mempunyai hubungan khusus dengan Maulana Muhammad Ilyas, karena ada hubungan yang erat dalam usaha agama dan dakwah antara keluarga Maulana Ilyas dengan keluarga Abul Hasan Ali Nadwi.

  • Syekh Muhammad Sa’ad al-Kandhalawi, cucu dari Maulana Muhammad Yusuf. Beliau telah melakukan penyempurnaan buku Khuruj fi Sabilillah Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits, karangan kakeknya, Maulana Muhamammad Yusuf

  • DAFTAR PUSTAKA:

    1. Ali Nadwi, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, (Terj. oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff. Yogyakarta, Hal 5, 6 dan 8
    2. Ibid, Hal 10, 11 dan 13
    3. Muhammad Mahbuh al-Haq Anshari, Hujjah al-Qathi’ah ‘ala Munnkiri ad-Du’a wal Maulid wal Fatihah wa Syaiun Minashshalah wassalam, Hal 12-16
    4. Syekh Sayed Ahmad Syihabuddin, Membuka Tabir Kesalahan Jamaah Tabligh (Terjemahan Tgk H. Hasanul Basri HG), Hal.19-20 dan lihat buku Mutiara Hikmah Ulama Ahli Dakwah, susunan Maulana Manzhur Nu’mani, Pustaka Ramadhan, Bandung, Hal. 70
    5. Maulana Manzhur Nu’mani, Mutiara Hikmah Ulama Ahli Dakwah, Pustaka Ramadhan, Bandung, Hal. 70
    6. Ali Nadwi, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, (Terj. oleh Masrokhan Ahmad) Ash-Shaff. Yogyakarta, Hal 13-14
    7. Ibid, Hal 128-130
    8. Ibid, Hal. 42
      9.H. Miswar Sulaiman, Menuju Jalan Sunnah Rasulullah SAW, Pengenalan Awal Jama’ah Tabligh, Yayasan PeNA, Banda Aceh, Hal. 7-10
    9. Dr. Abdul Khaliq Pirzada, Maulana Muhammad Ilyas diantara pengikut dan penentangnya (Terj. oleh Masrokhan Ahmad), Ash-Shaff, Yogyakarta, Hal.25-27
    10. Zakariya al-Kandahlawy, Otobiografi Kisah-Kisah Kehidupan Syaikhul Hadits Maulana Zakariyya al- Kandhalawi, (Terj. Abd Rahman Ahmad as-Sirbuny), Pustaka Nabawi, Cirebon, Hal. 139

    Salam Aswaja 🙂

    Salah Kaprah Tentang Syeikh Siti Jenar

    image

    SEJARAH SYEH SITI JENAR

    Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani

    Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.

    Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid ‘Ali Khali Qasam bin Sayyid ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin Sayyid ‘Alwi al-Mubtakir bin Sayyid ‘Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid ‘Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid ‘Ali Al-‘Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

    Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.

    Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. KesultananMalaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani. Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

    Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.
    Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

    Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:

    • Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya.
    • Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,

    • Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara.

    • Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.

    Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.

    Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.

    Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.

    KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:

    • Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong.

    Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]

    • “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
  • Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa.

  • Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.

    • Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun.Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia.

    Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.“

    • Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron.

    Bantahan saya: “Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama. Tidak bisa diterima akal sehat.”

    Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:

    1) Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
    2) Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
    3) Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]

    Wahai kaum muslimin melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam.

    Wallahu a’lam

    Salam Aswaja 🙂

    Pengertian Hidayah, Inayah dan Taufik

    image

    Sudah sering kita mendengar para MC atau pembawa acara selalu mengatakan : “Semoga kita senantiasa mendapatkan hidayah, ma’unah dan taufiq”, namun di saatditanya, mereka belum faham makna ketiganya.

    HIDAYAH itu petunjuk, seperti petunjuk jalan (rambu-rambu lalu lintas atau petunjuk penggunaan suatu produk).Dan petunjuk tentang kebenaran itu sudah sering didengar oleh mayoritas manusia pada era modern seperti ini.

    Sehingga hampir mustahil kalau ada orang islam yang masih suka maksiat semisal zina, mabuk, korupsi mengaku kalau dia belum mendapat petunjuk. karena kalau dia sudah tahu bahwa zina, mabuk dan korupsi itu buruk, maka itu tandanya dia sudah mendapat petunjuk. Lalu mengapa dia masih belum bisa meninggalkan kemaksiatan itu? Jawabnya ada pada ‘Inayah.

    INAYAH atau MA’UNAH adalah pertolongan, dan pertolongan ini selalu ada korelasi antara hamba dengan Tuhan secara terus menerus. Sehingga orang yang sudah mengetahui baik dan buruk akan selalu berusaha untuk mendapatkan pertolongan agar dapat mengerjakan kebaikan dan juga meninggalkan keburukan.Dan orang yang sudah mendapat hidayah tentang kebenaran belum tentu mau mencari pertolongan.

    Padahal kalau dia bekerja sebagai karyawan dan harus masuk kerjatengah malam, maka dia akan selalu berusaha mencari pertolongan agar selalu bisa masuk kerja tepat waktu. Di sisi lain dia juga sudah tahu kalau sholat malam itu sangat baik, namun mengapa dia tidak berusaha untuk mendapatkan pertolongan agar dapat mengerjakan sholat malam? ini artinya bahwa dia sudah dapat petunjuk tentang kabaikan sholat malam, namun dia sengaja tidak berusaha untuk mendapatkan ma’unah dari Allah Ta’ala.

    Dan setiap orang yang sudah mendapat hidayah plus ma’unah, belum tentu ibadahnya tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya, mengapa demikian? Jawabnya ada pada taufiq.

    TAUFIQ adalah kecocokan atau kesesuaian dengan apa yang dikendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan untuk mendapatkan taufiq ini, maka orang harus belajar ilmu agama dengan sebaik-baiknya,agar segala amal ibadahnya benar-benar sesuai dengan tuntunan syari’at yang lurus.

    Wallahu a’lam

    Kiriman oleh : Yai Dawam Mu’allim

    Salam Aswaja 🙂

    Keunikan Bahasa Arab

    image

    Coba Anda baca petuah di bawah ini :

    ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻛَﻒَّ ﻓَﻜَّﻪُ ﻭَﻓَﻚَّ ﻛَﻔَّﻪُ
    ﻭَﺷَﺮُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻓَﻚَّ ﻓَﻜَّﻪُ ﻭَﻛَﻒَّ ﻛَﻔَّﻪُ
    ْﻢَﻜَﻓْ ﻣِﻦْ ﻓَﻜَﺔِ ﻛَﻒٍّ ﻛَﻔَﺖْ ﻓُﻜُﻮﻛَﻬُﻢْ
    ْﻢَﻛَﻭْ ﻣِﻦْ ﻛَﻔَﺔِ ﻓَﻚٍّ ﻓَﻜَﺖْ ﻛُﻔُﻮﻓَﻬُﻢْ
    ﻛَﻔُّﻮﺍ ﻓُﻜُﻮﻛَﻜُﻢْ ﻭَﻓَﻜُّﻮﺍ ﻛُﻔُﻮْﻓَﻜُﻢْ .

    Menarik tidak ?
    Berikut adalah artinya:

    -Sebaik-baik manusia adalah orang yang bisa menahan mulutnya (yaitu menjaga ucapannya) dan membuka tangannya (yaitu ringan tangan dan suka membantu)

    -Sejelek-jelek manusia adalah orang yang suka membuka mulutnya (yaitu tidak menjaga mulutnya) dan menahan tangannya (yaitu tidak suka menolong)

    -Betapa banyak orang yang membuka tangannya (suka menolong) menahan mulutnya (menjaga ucapannya)

    -Dan betapa banyak orang yang menahan tangannya (tidak suka menolong) membuka mulutnya (tidak menjaga ucapannya)

    -Tahanlah mulut-mulut kalian (yaitu jagalah mulut kalian) dan bukalah tangan-tangan kalian (yaitu suka menolong)

    EKSPLORASI :
    Ini adalah keistimewaan Bahasa Arab, hanya berbekal dua huruf utama, yaitu huruf ﻑ dan ﻙ yang terkombinasi bisa menjadi petuah yang sarat manfaat.

    Perhatikan ketika huruf ﻑ dan ﻙ terkombinasi :
    * Berfungsi sebagai “fi’il” (verba)
    a. Kata ﻛﻒّ bermakna ﻣﻨﻊ yaitu mencegah / menahan
    b. Kata ﻓﻚّ bermakna ﺣﻞ ﻭﻓﺾ ﻭﺃﻃﻠﻖ yaitu melepaskan, membuka atau membebaskan

    • Berfungsi sebagai “isim” (nomina)
      a. Kata ﻛﻒ atau ﺍﻟﻜﻒ yang bentuk plural nya ﺍﻟﻜﻔﻮﻑ، bermakna tangan, telapak tangan beserta jari jemarinya.
      b. Kata ﻓﻚ atau ﺍﻟﻔﻚ yang bentuk plural nya ﺍﻟﻔﻜﻮﻙ , bermakna rahang, tulang rahang.

    Dinamika dan kekuatan Bahasa Arab, yang terlihat dari kekayaan “ashwat” (fonetis) dari beberapa huruf yang sama.

    Misalnya, huruf ﻙ – ﻝ – ﻡ , memiliki komposisi bervariasi yg memiliki kekuatan makna tersendiri sesuai komposisi masing-masing. Misalnya, dari tiga huruf di atas :

    • Ka-la-ma ‏( ﻛَﻠَﻢَ ‏) bermakna ﺟَﺮَﺡَ ‏( melukai)
    • Ka-mu-la ‏( ﻛَﻤُﻞَ ‏) bermakna sempurna
    • La-ka-ma ‏( ﻟَﻜَﻢَ ‏) bermakna menempeleng
    • ma-ka-la ‏( ﻣَﻜَﻞَ ‏) bermakna menyusut, berkurang
    • ma-la-ka ‏( ﻣَﻠَﻚَ ‏) yang bermakna memiliki
      Keistimewaan ini hanyalah dimiliki oleh Bahasa Arab.

    Kekayaan kosakata dan sinonim (murâdif).

    • Untuk menyebutkan kata mulut, di dalam bahasa Arab bisa disebut

    ﺛَﻐْﺮ ؛ ﻓَﻢ ؛ ﻓُﺘْﺤَﺔ ؛ ﻓُﻮ ؛ ﻓُﻮْﻩ ؛ ﻓُﻮّﻫَﺔ ؛
    ﻓِﻴﻪ ؛ ﻓﺎﻩ ؛ ﻣَﺒْﺴِﻢ؛ ﻓﻚ

    • Untuk menyebutkan kata tangan, bisa disebut :

    ﺇﺻْﺒَﻊ ؛ ﺇﻣْﻀﺎﺀ ؛ ﺗَﻮْﻗِﻴﻊ ؛ ﺣَﻮْﺯ ؛ ﺣِﻴَﺎﺯَﺓ ؛
    ﺩَﻭﺭ ؛ ﺿِﻠْﻊ ؛ ﻛَﻒّ ؛ ﻣُﺴَﺎﻋَﺪَﺓ ؛ ﻳَﺪ

    • Tahukah anda, di dalam bahasa Arab, kita bisa mendapati
      21 kata sinonim (murâdif) utk kata cahaya
      52 kata sinonim utk kegelapan
      9 sinonim utk matahari
      50 sinonim utk awan
      64 sinonim utk hujan
      170 sinonim utk air
      100 sinonim utk jenggot
      dan ribuan kata lainnya.

    Kecermatan (diqqoh) makna pada tiap kata, walaupun kaya dengan sinonim.

    Misal, untuk kata “melihat” memiliki bbrp sinonim, namun memiliki penekanan makna yang berbeda.

    Seperti :
    kata ﻧﻈﺮ artinya memandang/melihat
    kata ﺭﻣﻖ artinya melihat dg sedikit membelalakkan mata
    kata ﻟﺤﻆ artinya melihat secara diam², atau melirik
    kata ﺣﺪﺝ artinya melihat sepintas dengan tajam
    kata ﺭﻧﺎ artinya melihat dg lama dan terdiam
    kata ﺣﺪﻕ artinya melihat dg melotot
    Dll.

    Keindahan bahasa Arab inilah yang membuat para orientalis semisal Ignazio Guidi (Orientalis Italia), atau Ernest Renan (padahal dia pembenci Arab), harus mengakui bahwa keistimewaan bahasa Arab itu kosakatanya begitu bersenandung, kaya dengan tasybihât (metafor) yg begitu memukau, lafazh (redaksi) walau kaya sinonim (murôdif) yang begitu signifikan, struktur gramatikal yg ringkas dan sederhana, dan kaya akan komposisi baik dari tarkîb (sintaksis), sharaf (morfologi), isytiqâq (derivasi) atau dilâlah (semantik)-nya.

    Sungguh, alangkah meruginya orang yang enggan atau tidak mau belajar bahasa Arab

    ” ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻣﻔﺘﺎﺡ ﺍﻹﺳﻼﻡ ”

    “Bahasa Arab itu kunci memahami Islam”.

    Begitulah nasehat Syaikh Ali Hasan al-Halabi saat dauroh di Trawas terakhir.

    Bagaimana seseorang bisa masuk ke dalam gudang perbendaharaan ilmu, jika ia tidak memiliki kuncinya

    Wallahu a’lam

    Salam Aswaja 🙂

    Kalau Bukan Nur Muhammad, Mana Mungkin Allah Ciptakan Adam (manusia), Langit dan Bumi ini !!

    image

    Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 15 ;

    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ ﺍﻟﺤﺴﻨﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻴﺮﺓ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ ﺹ ١٥ .
    ﻭﻳﺮﻭﻯ ﻣﻦ ﻃﺮﻕ ﺷﺘﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻤﺎ ﺧﻠﻖ ﺁﺩﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺃﻟﻬﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺏ ﻟﻢ ﻛﻨﻴﺘﻨﻲ ﺃﺑﺎ ﻣﺤﻤﺪ ؟
    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻳﺎ ﺁﺩﻡ ﺇﺭﻓﻊ ﺭﺃﺳﻚ ﻓﺮﻓﻊ ﺭﺃﺳﻪ ﻓﺮﺃﻯ ﻧﻮﺭ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺳﺮﺍﺩﻕ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺏ ﻣﺎ ﻫﺬﺍﺍﻟﻨﻮﺭ ؟
    ﻗﺎﻝ : ﻫﺬﺍ ﻧﻮﺭ ﻧﺒﻲ ﻣﻦ ﺫﺭﻳﺘﻚ ﺇﺳﻤﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻣﺤﻤﺪ ﻟﻮﻻﻩ ﻣﺎ ﺧﻠﻘﺘﻚ ﻭﻻ ﺧﻠﻘﺖ ﺳﻤﺎﺀ ﻭﻻ ﺃﺭﺿﺎ

    Yang artinya kurang lebih;
    “Bahwa sesungguhnya Allah SWT sesudah menciptakan Nabi Adam as,
    Maka Allah SWT memberi Ilham kepada Nabi Adam as untuk bertanya kepada-Nya; “Ya Allah, kenapa Engkau juluki aku dengan “Abu Muhammad”
    (Ayahnya/bapaknya Muhammad)..??

    Maka Allah SWT Berfirman kepada Nabi Adam as; “Hai Adam, Angkat kepalamu…”.
    Maka Nabi Adam as kemudian mengangkat kepalanya. Seketika itu Beliau melihat Nur (cahaya) Baginda Nabi Muhammad SAW meliputi di sekitar ‘Arasy.
    Nabi Adam as bertanya; “Ya Allah, Nur siapa ini..??

    Allah SWT Berfirman; “Ini adalah Nur seorang Nabi dari keturunanmu, di langit namanya Ahmad, di bumi namanya Muhammad.
    Kalau bukan karena Dia niscaya Aku tidak akan menciptakan kamu, langit dan bumi…!!”.

    Kemudian Allah SWT meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam as”.

    Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Jalaluddin
    As-Suyuthi dalam Kitabnya Ad-Durarul Hisan Hamisy Daqo’iqul Akhbar hal 5;

    ﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺟﻼﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺤﺴﺎﻥ ﻫﺎﻣﺶ ﺩﻗﺎﺋﻖ ﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﺹ ٥ :
    ﺛﻢ ﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﺳﺘﻮﺩﻉ ﻧﻮﺭ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﻇﻬﺮﻩ ﻭﺃﺳﺠﺪ ﻟﻪ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻭﺃﺳﻜﻨﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻜﺎﻧﺖ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﺗﻘﻒ ﺧﻠﻒ ﺁﺩﻡ ﺻﻔﻮﻓﺎ ﺻﻔﻮﻓﺎ ﻳﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﻮﺭ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

    Yang artinya kurang lebih;
    “Bahwa sesungguhya Allah SWT telah meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam as.
    Sehingga para malaikat sujud dan berbaris rapi di belakang Nabi Adam as untuk menghaturkan salam kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW”.

    ● Rasulullah SAW bersabda :

    ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻠﻖ ﻧﻮﺭ ﻣﺤﻤﺪ ﻗﺒﻞ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﻧﻮﺭﻩ

    Artinya : Sesungguhnya Allah telah mencipta Nur Muhammad sebelum segala sesuatu dari pada Nur-Nya.
    ( Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fatawa al-Haditsiyah, Hal. 206)

    ● Nabi Adam sebelum diturunkan dan diutus oleh Allah Swt ke dunia telah diberi Pengetahuan.

    Seperti yg diTerangkan Dalam Surat “Al-Baqarah dalam Tafsir Jalalain,

    ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ
    ● ﻭَﻋَﻠَّﻢَ ﺀﺍﺩَﻡَ ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ ﺃﻱ : ﺃﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﻤﻴﺎﺕ ﻛُﻠَّﻬَﺎ ﺍﻟﻘﺼﻌﻪ ﻭﺍﻟﻘُﺼَﻴْﻌَﺔ ﻭﺍﻟﻔﺴﻮﺓ ﻭﺍﻟﻔُﺴﻴَّﺔ ﻭﺍﻟﻤِﻐْﺮَﻓَﺔ ﺑﺄﻥ ﺃﻟﻘﻰ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﻋﻠﻤﻬﺎ ﺛُﻢَّ ﻋَﺮَﺿَﻬُﻢْ ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺴﻤﻴﺎﺕ ﻭﻓﻴﻪ ﺗﻐﻠﻴﺐ ﺍﻟﻌﻘﻼﺀ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟﻬﻢ ﺗﺒﻜﻴﺘﺎً ﺃَﻧﺒِﺌُﻮﻧِﻰ ﺃﺧﺒﺮﻭﻧﻲ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺀِ ﻫَﺆُﻻﺀِ ﺍﻟﻤﺴﻤﻴﺎﺕ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺻﺎﺩﻗﻴﻦ ﻓﻲ ﺃﻧﻲ ﻻ ﺃﺧﻠﻖ ﺃﻋﻠﻢ ﻣﻨﻜﻢ ﺃﻭ : ﺃﻧﻜﻢ ﺃﺣﻖ ﺑﺎﻟﺨﻼﻓﺔ ﻭﺟﻮﺍﺏ ﺍﻟﺸﺮﻁ ﺩﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻗﺒﻠﻪ .

    ● ﻗَﺎﻟُﻮﺍْ ﺳﺒﺤﺎﻧﻚ ﺗﻨﺰﻳﻬﺎً ﻟﻚ ﻋﻦ ﺍﻻﻋﺘﺮﺍﺽ ﻋﻠﻴﻚ ﻻَ ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَﺎ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَﺎ ﺇﻳﺎﻩ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧﺖَ ﺗﺄﻛﻴﺪ ﻟﻠﻜﺎﻑ ﺍﻟﻌﻠﻴﻢ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﺨﺮﺝ ﺷﻲﺀ ﻋﻦ ﻋﻠﻤﻪ ﻭﺣﻜﻤﺘﻪ .

    ● (Dan diajarkan-Nya kepada Adam nama-nama) maksudnya nama-nama benda (kesemuanya) dengan jalan memasukkan ke dalam Qalbunya pengetahuan tentang benda-benda itu (kemudian dikemukakan-Nya mereka) maksudnya benda-benda tadi yang ternyata bukan saja benda-benda mati,

    Tetapi juga makhluk-makhluk berakal,
    (kepada para malaikat, lalu Allah berfirman) untuk memojokkan mereka, (“Beritahukanlah kepada-Ku) sebutkanlah (nama-nama mereka) yakni nama-nama benda itu (jika kamu memang benar.”) bahwa tidak ada yang lebih tahu daripada kamu di antara makhluk-makhluk yang Kuciptakan atau bahwa kamulah yang lebih berhak untuk menjadi khalifah.
    Sebagai ‘jawab syarat’ ditunjukkan oleh
    ~kalimat sebelumnya~

    ● (Jawab mereka, “Maha suci Engkau..!) artinya TIDAK SEPATUTNYA KAMI AKAN MENYANGGAH KEHENDAK DAN RENCANAMU.
    (Tak ada yang kami ketahui, kecuali sekadar yang telah Engkau ajarkan kepada kami) mengenai benda-benda tersebut.
    (Sesungguhnya Engkaulah) sebagai ‘taukid’ atau penguat bagi Engkau yang pertama,
    (Yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana.”) hingga tidak seorang pun yang lepas dari pengetahuan serta hikmah kebijaksanaan-Mu.

    ● Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani di kitabnya
    “Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin hal 217”.
    Bahwa; Sesungguhnya Nabi Adam AS mendengar suara dari dalam dahinya seperti suara kicauan burung.

    Beliau merasa heran dan lantas berkata; “Subhanallah..Maha Suci Allah…sungguh sangat agung sekali kekuasan-Mu..suara apakah ini yang telah Engkau ciptakan berada dalam dahiku ya Allah..?

    Seketika Allah SWT menjawab ketakjuban Nabi Adam as tersebut dengan Firman-Nya;

    ﻳﺎ ﺁﺩﻡ ﻫﺬﺍ ﺗﺴﺒﻴﺢ ﺧﺎﺗﻢ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻭﺳﻴﺪ ﻭﻟﺪﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

    Yang artinya kurang lebih;
    “Hai Adam, (ketahuilah olehmu, sesungguhnya suara tersebut adalah tasbih kekasih-Ku Nabi akhir zaman, yang kelak menjadi junjungan (pimpinan) seluruh umat manusia (keturunanmu).

    Baginyalah senantiasa Kulimpahkan sholawat dan salam sejahtera dari-Ku..”
    Dan sesungguhnya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa terlihat bersinar kemilauan di muka Nabi
    Adam as,
    Laksana matahari yang bersinar terang benderang di siang hari.

    Maka, Allah SWT mengambil sumpah (perjanjian) kepada Nabi Adam AS agar senantiasa menjaga Nur tersebut dengan Berfirman :

    ﻳﺎ ﺁﺩﻡ ﺧﺬﻩ ‏) ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ ‏( ﺑﻌﻬﺪﻱ ﻭﻣﻴﺜﺎﻗﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻥ ﻻ ﺗﻮﺩﻋﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﻼﺏ ﺍﻟﻄﺎﻫﺮﺓ ﻭﺍﻟﻤﺤﺼﻨﺎﺕ ﺍﻟﺰﺍﻫﺮﺓ
    Yang artinya kurang lebih;
    “Hai Adam, bejanjilah (kepada-Ku) untuk senantiasa benar-benar menjaga Nur Nabi Muhammad SAW
    (yang telah Kuletakkan dalam dirimu).
    Janganlah sekali-kali kamu letakkan kecuali kepada orang-orang yang suci mulia..”.

    Maka Nabi Adam AS menerima dengan senang hati bahkan Beliau sangat bangga untuk melaksanakan tugas tersebut dengan menjaganya dan mewasiatkan amanat tersebut kepada anak cucunya kelak.

    ● Begitu pula Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam as di muka Nabi Syits as, maka Nabi Adam as selalu memperhatikan dan menjaga Nabi Syits as,

    Demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits as tersebut.

    Setelah Nabi Syits as dewasa dan Nabi Adam as merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Allah SWT, Maka Beliau Nabi Adam as memanggil putranya (Nabiyyullah Syits as) dan memberikan wasiat/amanat kepadanya; “

    ﻳﺎ ﺑﻨﻲ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺧﺬ ﻋﻠﻴﻚ ﻋﻬﺪﺍ ﻭﻣﻴﺜﺎﻗﺎ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻟﻤﺴﺘﻮﺩﻉ ﻓﻲ ﻇﻬﺮﻙ ﻭﻭﺟﻬﻚ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻀﻌﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺃﻃﻬﺮ ﻧﺴﺎﺀ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ

    Yang artinya kurang lebih;
    “Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Allah SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.

    Dan Nabi Adam as juga telah mewasiatkan kepada Nabi Syits as (putranya) agar senantiasa membesarkan kemuliaan dan keagungan Baginda Nabi Muhammad SAW di jiwanya, serta senantiasa menyebut-nyebutnya dengan berdzikir kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW.

    Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi dalam kitabnya :
    “Al-Hawi Lil Fatawi Juz 2 hal 174”;

    ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺟﻼﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﻭﻱ ﻟﻠﻔﺘﺎﻭﻱ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ ١٧٤
    ﻭﻗﺪ ﺃﺧﺮﺝ ﺍﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ ﻋﻦ ﻛﻌﺐ ﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﺃﻥ ﺁﺩﻡ ﺃﻭﺻﻰ ﺍﺑﻨﻪ ﺷﻴﺚ ﻓﻘﺎﻝ ﻛﻠﻤﺎ ﺫﻛﺮﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﺫﻛﺮ ﺇﻟﻰ ﺟﻨﺒﻪ ﺍﺳﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﻓﺈﻧﻲ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﺳﻤﻪ ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﻕ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻭﺃﻧﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻭﺍﻟﺘﻴﻦ ﺛﻢ ﺇﻧﻲ ﻃﺮﻓﺖ ﻓﻠﻢ ﺃﺭﻯ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻣﻮﺿﻌﺎ ﺇﻻ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﺳﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻟﻢ ﺃﺭﻯ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻗﺼﺮﺍ ﻭﻻ ﻏﺮﻓﺔ ﺇﻻ ﺍﺳﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻟﻘﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﺳﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻋﻠﻰ ﻧﺤﻮﺭﺍﻟﺤﻮﺭ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻭﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﻗﺼﺐ ﺁﺟﺎﻡ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﺷﺠﺮﺓ ﻃﻮﺑﻰ ﻭﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﺳﺪﺭﺓ ﺍﻟﻤﻨﺘﻬﻰ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻃﺮﺍﻑ ﺍﻟﺤﺠﺐ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﻋﻴﻦ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻓﺄﻛﺜﺮﺫﻛﺮﻩ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﺗﺬﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺳﺎﻋﺎ ﺗﻬﺎ

    Yang artinya kurang lebih;
    “Bahwa sesungguhnya Nabi Adam as berwasiat kepada putranya (Nabi Syits as);
    ”(Hai Syits), setiap kamu berdzikir(menyebut) Asma Allah SWT hendaklah kamu sertakan pula berdzikir (menyebut) nama Baginda Nabi Muhammad SAW.

    Karena sesungguhnya aku (Nabi Adam as), telah melihat namanya selalu berdampingan dengan Asma Allah SWT (Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah) tertulis meliputi Arasy’, tertulis di seluruh tempat-tempat di langit, tertulis di gedung-gedung sorga, di kamar-kamar sorga, di leher para bidadari sorga, di seluruh dedaunan pohon-pohon sorga, di seluruh dedaunan pohon Thuba, di seluruh dedaunan pohon Sidratil Muntaha, di seluruh sudut benteng dan di setiap dahi (antara kedua mata) para malaikat.
    Maka perbanyakilah selalu berdzikir (menyebut-nyebut) namanya, karena seluruh malaikat di alam malakut senantiasa berdzikir (menyebut-nyebut) namanya”.

    Dan sesungguhnya Allah SWT telah mewasiatkan pula kepada Para Nabi & Rasul terutama Para Nabi yang diberikan kitab agar benar-benar beriman dan selalu membesarkan kemuliaan Baginda Nabi SAW di sisi
    Allah SWT dengan senantiasa berdzikir mengucapkan kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW.

    Dan diwajibkan pula untuk mewasiatkan kepada umatnya masing-masing agar sungguh-sungguh beriman, tunduk, patuh dan senantiasa membesarkan kemuliaan Junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW dan menjadi pembela setianya apabila suatu saat bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.

    Sebagaimana yang telah Allah SWT Firmankan dalam Surat Aali Imraan ayat 81;

    ﻭﺇﺫ ﺃﺧﺬ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻴﺜﺎﻕ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻟﻤﺎ ﺁﺗﻴﺘﻜﻢ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﻭﺣﻜﻤﺔ ﺛﻢ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﺭﺳﻮﻝ ﻣﺼﺪﻕ ﻟﻤﺎ ﻣﻌﻜﻢ ﻟﺘﺆﻣﻨﻦ ﺑﻪ ﻭﻟﺘﻨﺼﺮﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﺃﻗﺮﺭﺗﻢ ﻭﺃﺧﺬﺗﻢ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻜﻢ ﺇﺻﺮﻱ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺃﻗﺮﺭﻧﺎ ﻗﺎﻝ ﻓﺎﺷﻬﺪﻭﺍ ﻭﺃﻧﺎ ﻣﻌﻜﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﻫﺪﻳﻦ .
    ‏( ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ 81 )

    Yang artinya kurang lebih;
    “Dan (ingatlah), ketika Allah SWT mengambil perjanjian dari para Nabi;
    “Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian semua berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian semua seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian semua, niscaya kalian semua akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan senantiasa mengagungkannya”.

    Allah SWT Berfirman; “Apakah kalian semua mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu..?”.

    Mereka serentak menjawab; “Kami mengakui”.
    Allah SWT Berfirman; “Kalau begitu saksikanlah
    (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian semua.”.
    (Q.S. Ali Imraan ayat 81).

    ● Perpindahan Nur Muhammad dari sulbi para nabi diabadikan dalam alquran surat al-Syu’ara ayat 218,
    yang berbunyi :

    ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺮَﺍﻙَ ﺣِﻴْﻦَ ﺗَﻘُﻮﻡُ ﻭَﺗَﻘَﻠُّﺒَﻚَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﺎﺟِﺪِﻳْﻦَ

    “Dia yang memperhatikan engkau ketika berdiri, dan perpindahanmu di antara orang
    orang yang (biasa) sujud”.

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas :
    Bahwa yang dimaksud dengan ‘perpindahanmu di antara orang-orang yang sujud’ yaitu berpindah-pindahnya Nur Muhammad saw dari sulbi seorang Nabi ke sulbi Nabi yang lainnya, seperti Adam, Syits, Nuh, Ibrahim, Ismail, dan hal ini tiada syak dan tiada diragukan lagi.

    Dari Ibnu Abbas,
    Bersabda Rasulullah saw : “Allah swt menempatkan Nurku di bawah Arsy sebelum Adam diciptakan selama dua belas ribu tahun.
    Maka ketika Allah swt menciptakan Adam, diletakkan Nur tersebut ke sulbi Adam, selanjutnya Nur tersebut berpindah dari sulbi ke sulbi, hingga kami berpisah di sulbi Abdullah bin Abdul Muthalib

    Dari Penjelasan diatas kita bisa menilai ;

    ● Bahwa Allah Swt Menciptakan Nur Muhammad Saw yang suci sebelum Nabi Adam as tercipta.

    ● Kemudian diciptakanlah Nabi Adam as, dengan sebaik.Nya Makhluq untuk meletakkan Nur Muhammad Saw disulbinya.

    ● Dan itu terus berpindah dr Sulbi para Nabi dan para Rasul sebelumnya.

    Wallahu a’lam

    Salam Aswaja 🙂

    Detik-Detik Kelahiran Muhammad SAW

    image

    PERISTIWA BERSEJARAH KELAHIRAN NABI MUHAMMAD

    Berdasarkan Penuturan Ibunda Nabi Muhammad sendiri (Sayidah Aminah)

    Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami asy-Syafi’i di dalam kitabnya ( ﺍﻟﻨﻌﻤﺔُ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺎﻟَﻢ ) hal. 61 menjelaskan:

    Bahwa sesungguhnya pada bulan kesembilan kehamilan Sayidah Aminah (bulan Rabiul Awal), saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad sudah semakin dekat, Allah semakin melimpahkan berbagai macam anugerah-Nya kepada Sayidah Aminah, mulai malam tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Bulan Rabiul Awal malam kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad;

    Pada malam tanggal 1, Allah melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayidah Aminah, sehingga beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

    Pada malam tanggal 2, datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapatkan anugerah agung yang luar biasa dari Allah.

    Pada malam tanggal 3, datang seruan memanggil kepadanya, “Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah.”

    Pada malam tanggal 4, Sayidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.

    Pada malam tanggal 5, Sayidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim, Khalilullah.

    Pada malam tanggal 6, Sayidah Aminah melihat cahaya Rasulullah memenuhi segala penjuru alam semesta.

    Pada malam tanggal 7, Sayidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.

    Pada malam tanggal 8, Sayidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana. Suara tersebut sangat jelas mengumandangkan, “Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah, Pencipta alam semesta.”

    Pada malam tanggal 9, Allah semakin mengucurkan limpahan belas kasih sayang-Nya kepada Sayidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayidah Aminah.

    Pada malam tanggal 10, Sayidah Aminah melihat tanah Thoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad.

    Pada malam tanggal 11, Sayidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad.

    Maka, pada malam 12 Bulan Rabiul Awal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Sayid Abdul Muthalib sedang bermunajat kepada Allah di sekitar Kabah dan Sayidah Aminah sendirian di rumah tanpa ada seorangpun yang menemaninya.

    Tiba-tiba, beliau Sayidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah. Lalu, perlahan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun nan cantik jelita dan diliputi cahaya yang memancar berkemilauan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan.

    Tiba-tiba, wanita pertama (Hawa, istri Nabi Adam) datang dan berkata kepada Sayidah Aminah, “Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi, engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta, Baginda Nabi Muhammad. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini adalah Hawa, Ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah untuk menemanimu.” Kemudian Ibu Hawa duduk di samping kanan Sayidah Aminah.

    Dan mendekat lagi wanita yang kedua (Sarah, istri Nabi Ibrahim) kepada Sayidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya, “Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi, engkau akan melahirkan Baginda Nabi Muhammad, seorang Nabi Agung yang dianugerahi Allah kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber seluruh ilmunya para nabi dan para kekasih Allah. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku ini adalah Sarah, istri Nabi Ibrahim. Aku diperintahkan Allah untuk menemanimu.” Kemudian Sayidah Sarah duduk di sebelah kiri Sayidah Aminah.

    Maka, wanita ketiga (Asiyah binti Muzahim, istri Firaun) pun kemudian mendekat dan menyampaikan berita gembira kepadanya, “Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad, Kekasih Allah yang paling agung dan insan sempurna yang paling utama mendapatkan pujian dari Allah dan dari seluruh makhuk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah untuk menemanimu”. Kemudian Sayidah Asiyah binti Muzahim tersebut duduk di belakang Sayidah Aminah.

    Sejenak Sayidah Aminah semakin kagum, karena wanita yang ke empat (Maryam, ibunda Nabi Isa) adalah lebih anggun berwibawa dan memiliki kecantikan luar biasa. Kemudian mendekat kepada Sayidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira, “Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi, engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad yang dianugerahi Allah berbagai macam mukjizat yang sangat agung dan sangat luar biasa. Beliau lah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi. Hanya untuk beliau, semata segala bentuk shalawat (rahmat takzim) Allah dan salam sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam ibunda Nabi Isa. Kami semua ditugaskan oleh Allah untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Baginda Rasulullah Muhammad.” Kemudian Sayidah Maryam, ibunda Nabi Isa duduk mendekatkan diri di depan Sayidah Aminah.

    Maka, keempat wanita suci mulia nan agung di sisi Allah tersebut kemudian merapat dan mengelilingi diri Ibunda Rasulullah Muhammad, Sayidah Aminah Binti Wahab, sehingga Ibunda Rasulullah semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh Ibunda Rasulullah saat itu, tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dan peristiwa demi peristiwa yang sangat agung, semakin Allah limpahkan demi penghormatan besar kepada Baginda Rasulullah Muhammad.

    Keajaiban berikutnya adalah Sayidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya saling berdatangan silih berganti memasuki ruangan Sayidah Aminah dan mereka memanjatkan puja, puji dan tasbih kepada Allah dengan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda.

    Detik berikutnya adalah Sayidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka. Terlihat oleh beliau berbagai macam bintang-bintang di angkasa raya yang sangat indah berkilauan yang saling beterbangan di langit ke segenap penjuru angkasa yang sangat cerah dipenuhi cahaya.
    Selanjutnya, Allah limpahkan mandat khusus kepada Malaikat Jibril untuk mengemban tugas agung dalam momen yang paling agung dan bersejarah bagi seluruh makhluk Allah.

    Firman Allah kepadanya:
    “Hai Jibril, serukanlah kepada seluruh arwah suci para nabi, para rasul dan para wali agar berkumpul berbaris rapi menyambut kedatangan Nabi Agung Muhammad. Hai Jibril, bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat al-Qurb dan al-Wishal kepada Nabi Agung Muhammad yang memiliki nur dan maqam luhur di sisi-Ku.

    Hai Jibril, perintahkanlah kepada Malaikat agar menutup semua pintu neraka. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Ridlwan agar membuka seluruh pintu surga. Hai Jibril, pakailah olehmu Hullah ar-Ridlwan (pakaian khusus yang diliputi keridhaan-Ku) demi menyambut kekasih-Ku, Nabi Agung Muhammad.

    Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat, para Malaikat Muqarrabin, para Malaikat Karubiyyin, para malaikat yang selalu mengelilingi Arasy, suruh mereka semua turun ke bumi dan berbaris rapi demi memuliakan dan mengagungkan kedatangan kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad.

    Hai Jibril, kumandangkanlah seruan di seluruh penjuru langit hingga lapis ketujuh dan di segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakan kepada seluruh makhluk-Ku bahwa sesungguhnya sekarang telah tiba saatnya kedatangan Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad.”

    Kemudian seketika itu pula Malaikat Jibril secepat kilat langsung melaksanakan seluruh mandat khusus dan agung dari Allah tersebut. Serentak beliau bawa seluruh pasukan malaikat turun ke bumi hingga memenuhi seluruh gunung-gunung Mekah dan berbaris rapi meliputi seluruh tanah suci Mekah. Sayap-sayap mereka terlihat laksana mega-mega putih berkilauan memenuhi angkasa.

    Dan saat itu pula seluruh hewan-hewan yang ada di segenap penjuru di bumi, di lautan dan di angkasa bersuka cita demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad.

    Ibunda Rasulullah, Sayidah Aminah berkata, “Saat itu pula, dengan izin Allah, bisa terlihat jelas olehku gedung-gedung yang ada di Syiria dan Palestina. Aku juga melihat tiga pilar bendera yang dibawa oleh para malaikat. Yang satu ditancapkan di jagad timur, yang satu ditancapkan di jagad barat dan yang satunya lagi di atas Kabah Baitullah.

    Dalam keadaan yang dipenuhi oleh misteri segala keajaiban yang sedemikian rupa, seketika pula datang serombongan burung-burung bercahaya yang indah memenuhi ruanganku, datang silih berganti. Paruh dan sayapnya adalah berupa mutiara zamrud dan yaqut yang indah sekali. Burung-burung tersebut menebarkan berbagai macam mutiara dan permata yang beraneka ragam indahnya di ruanganku.

    Setelah itu, mereka serentak memanjatkan puja, puji dan tasbih kepada Allah.
    Dan aku lihat pula para malaikat datang bergerombolan dan silih berganti sambil membawa mabkharah (tempat dupa) berupa emas merah dan emas putih yang berisikan dupa-dupa wewangian surga yang semerbak harum baunya memenuhi seluruh jagad raya. Sambil bergemuruh, suara mereka mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad.

    Seketika itu pula, aku lihat bulan terbelah di atasku laksana qubah dan bintang-bintang gemerlapan berjajar rapi di atas kepalaku laksana mata rantai emas intan permata.

    Tiba-tiba, telah ada di sisiku secangkir minuman putih bening melebihi susu. Seketika aku meminumnya dan terasa nikmat sekali. Kelezatan manisnya melebihi gula dan madu dan kesejukannya melebihi salju (es). Maka seketika lepaslah segala dahagaku. Sangat terasa nikmat, segar dan lezat sekali yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

    Seketika cahaya yang luar biasa meliputi diriku. Kemudian, datanglah burung putih berkilauan cahaya mendekati dan mengusapkan sayapnya pada diriku.

    Saat itulah tanda-tanda kelahiran mulai aku rasakan dan aku bersandar pada para wanita yang ada di sekelilingku. Seketika lahirlah Nabi Akhir Zaman, Kekasih Allah yang sempurna, Rasulullah Muhammad. Saya tidak melihat kecuali hanya sinar cahaya yang sangat agung. Tidak lama kemudian, aku melihat putraku (Rasulullah Muhammad) telah berada di sampingku terselimuti dengan sutera putih di atas hamparan sutera hijau dalam keadaan sujud mengiba kehadirat Allah dengan mengangkat jari telunjuknya.

    Dan saya mendengar beliau Rasulullah mengucapkan:

    ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻠًﺎ

    “Allah Maha Besar dengan segala keagungan-Nya. Segala puji bagi Allah atas segala anugerah-Nya. Maha Suci Allah kekal abadi selama-lamanya.”

    Pada saat itulah semakin memuncak kegembiraan seluruh penghuni alam semesta. Para malaikat, para nabi, para wali, para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah yang ada di daratan, di lautan, di angkasa dan bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, Kursi dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan shalawat takdzim kepada Kekasih Allah, Nabi Akhir Zaman, Baginda Rasulullah Muhammad.

    Bahkan, Kabah Baitullah ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad.
    Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid ad-Dibai, milik Imam Abdur Rahman ad-Dibai,

    ِﻓَﺎﻫْﺘَﺰَّ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵُ ﻃَﺮَﺑًﺎ ﻭَﺍﺳْﺘِﺒْﺸَﺎﺭًﺍ ﻭَﺍﺯْﺩَﺍﺩَ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻲُّ ﻫَﻴْﺒَﺔً ﻭَﻭَﻗَﺎﺭًﺍ ﻭَﺍﻣْﺘَﻠَﺄَﺕِ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ ﺃَﻧْﻮَﺍﺭًﺍ ﻭَﺿَﺠَّﺖ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﺗَﻬْﻠِﻴْﻠًﺎ ﻭَﺗَﻤْﺠِﻴْﺪًﺍ ﻭَﺍﺳْﺘِﻐْﻔَﺎﺭًﺍ

    “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad), Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya. Kursi juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya. Seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang. Para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar kepada Allah dengan mengucapkan:

    ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ

    “Maha Suci Allah. Segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Allah Maha Besar.”
    Sesungguhnya dengan keagungan Baginda Rasulullah Muhammad di sisi Allah, maka Allah telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya (Malaikat Jibril, Malaikat Muqarrabin, Malaikat Karubiyyin, malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan malaikat lainnya) agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad dengan memanjatkan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar kepada Allah.

    Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad yang diwujudkan oleh Allah, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk Allah bahwa Baginda Nabi Muhammad adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.

    Sayyidul Mursalin, Rasulullah dilahirkan di tengah kabilah besar, Bani Hasyim di Mekkah pada pagi hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal tahun 51 Sebelum Hijrah, tahun pertama tragedi pasukan gajah atau empat puluh tahun dari berlalunya kekuasaan Kisra Anusyirwan. Juga bertepatan dengan Hari Senin, tanggal 4 Mei 572 M sesuai dengan analisis seorang Alim Besar, Muhammad Sulaiman al-Manshur Furi dan Astrolog (Ahli Ilmu Falak), Mahmud Basya.

    Rasulullah Lahir dalam keadaan yatim. Ayah beliau (Abdullah) meninggal dunia saat beliau masih dalam kandungan.

    Berikut ini adalah kejadian-kejadian luar biasa pada saat Nabi Muhammad dilahirkan:

    Ibunda nabi Muhammad berkata, “Saat ia dalam kandunganku, aku bermimpi melihat cahaya terang yang keluar dari diriku menyinari istana-istana Bushra di negeri Syam. Demi Allah, selama aku hamil sama sekali tidak merasa berat. Tidak ada wanita hamil yang merasa seringan dan semudah yang aku rasakan. Ketika lahir, ia meletakkan telapak tangannya di tanah, sedang kepalanya menengadah ke langit.”

    Telah terjadi irhashat (tanda-tanda awal yang menunjukkan kenabian) ketika milad beliau.

    Di antaranya:
    (1) Runtuhnya 14 balkon istana kekaisaran.
    (2) Padamnya api yang sekian lama disembah oleh kaum Majusi, dan
    (3) Hancurnya gereja-gereja di sekitar danau Sawah setelah airnya menyusut. (Riwayat tersebut dilansir oleh ath-Thabari dan al-Baihaqi).

    Begitu juga, keberkahan yang dirasakan oleh Halimah saat mengasuh Nabi Muhammad adalah:
    1. Unta milik Halimah yang sudah tua yang digunakan untuk membawa Nabi Muhammad secara mengejutkan bisa menempuh jarak yang tidak bisa ditempuh oleh unta lain yang lebih sehat dan lebih muda dari unta miliknya.
    “Kemudian kami pergi keluar lagi dan aku menunggangi unta betinaku dan membawa serta beliau di atasnya. Demi Allah, unta betinaku tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh unta-unta mereka, sehingga teman-teman wanitaku dengan penuh keheranan berkata kepadaku, ‘Wahai putri Abu Zuaib, Celaka! Kasihanilah kami. Bukankah unta ini yang dulu pernah bersamamu?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, inilah unta yang dulu itu!’ Mereka berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya unta ini memiliki keistimewaan’.”

    1. Kambing milik Halimah mengeluarkan banyak susu di saat yang lain tidak setetes pun keluar air susunya.
      “Kemudian kami mendatangi tempat tinggal kami di perkampungan kabilah Bani Saad. Sepanjang pengetahuanku, tidak ada bumi Allah yang lebih tandus darinya. Ketika kami datang, kambingku tampak dalam keadaan kenyang dan banyak air susunya, sehingga kami dapat memerasnya dan meminumnya. Padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susu pun walaupun dari kambing yang gemuk. Kejadian ini membuat orang-orang yang hadir dari kaumku berkata kepada para pengembala mereka, ‘Celakalah kalian! Pergilah membuntuti ke mana saja pengembala kambing putri Abu Zuaib mengembalakannya.”

    Referensi:
    1. Kitab Nurul Musthofa Jilid 1, karya Habib Murtadho bin Abdullah bin Ahmad al-Kaff.
    2. Riwayat Kehidupan Nabi Muhammad, karya H.M. Hamid Husaini.
    3. Kitab al-Hawi lil-Fatawi yang dikarang oleh Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman as-Suyuthi.
    4. Kitab Dalailun Nubuwwah, karya Imam Baihaqi.
    5. Kitab Dalailun Kurniawan yang dikarang oleh Imam Abu Na’im al-Ashfahani.
    6. Kitab an-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alam. Karya Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami.
    7. Kitab Sabilul Iddikar, karya Imam Quthbul Ghouts wad-Da’wah wal-Irsyad Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad.
    8. Kitab al-Ghurar, karya Habib Muhammad bin Ali bin Alawy Ba Alawy al-Husaini.
    9. Kitab asy-Syifa’ yang dikarang oleh Imam Qadhi ‘Iyadh.
    10. Kitab as-Sirah An-Nabawiyah, karya Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasani.
    11. Kitab Hujjatullah ‘alal ‘Alamin, karya Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani.

    Wallahu a’lam

    Salam Aswaja 🙂

    Create a free website or blog at WordPress.com.

    Up ↑